Our previous journey: Kuwait

Tuesday, July 29, 2008

Setahun Lewat : Weather


Ini adalah seri 'laporan khusus' setahun kami menginjakkan kaki di bumi Kuwait, dalam rangka mengenang, merenung dan mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh-Nya kepada kami selama kami di sini.

Sebagai mahluk Jakartaensis, sudah terbiasa hidup dengan dua musim : musim hujan dan musim kemarau, dengan suhu terendah paling banter kira-kira 27˚ dan tertinggi 35˚. Sekarang, di Kuwait sini kami mengalami empat musim : panas, dingin, panas banget dan dingin banget dengan range suhu antara 1˚ hingga 50˚.

SUMMER

Dulu jaman kuliah pernah mengalami panas luar biasa, saat turun dari bus (ber AC) di terminal Cililitan pas jam 1 siang. Rasanya ampun-ampunan. Ternyata, panas di terminal Cililitan ngga ada apa-apanya dibanding Kuwait sini. Dengan suhu mentok-mentok 52˚, panasnya kira-kira seperti memeluk kap mesin mobil habis menempuh perjalanan Jakarta - Cirebon non-stop. Masih ditambah dengan angin panas berdebu seperti terhembus dari sebuah hair-dryer raksasa. Rasanya ngga sreg kalau kemana-mana ngga bawa botol air.
Summer mulai berkuasa dari bulan Mei hingga September. Hari terasa panjang karena jam 4:30 pagi matahari sudah nongol dan baru ngumpet saat jam 7 sore.

FALL & SPRING

Seorang rekan di Kuwait berpendapat, saat spring (bulan Maret - April) dan fall (Oktober - November) merupakan suhu-nya surga. Udaranya sejuk, anginnya breezy adem. Seperti di daerah Puncak - Cipanas. Biasanya, masyarakat Kuwait jadi sering keluar rumah siang-siang, keliling kota sambil membuka jendela dan sunroof mobil, nggelar tiker di luar menikmati cuaca yang lagi jinak-jinaknya.

WINTER

Motif

Winter berkuasa di bulan Desember - Februari dengan range suhu 1˚ (bisa drop sampai -5˚) hingga 8˚ saat siang hari. Ini adalah musim idaman kami sekeluarga. Langit bersih, enak buat jalan-jalan siang, matahari tidak menyengat terbantu angin dingin. Cocok buat foto-foto. Wajar kalau koleksi foto-foto kami berada di luar rumah semua ;)
Nyruput coklat hangat rasanya nikmat sekaleeyyy. Sayang, dinginnya tidak mampu membuat Kuwait turun salju (padahal di negara sekitar seperti Lebanon, Iraq dan Jordan salju sempat turun). Hari terasa pendek, matahari nongol di jam 6:30 pagi dan mulai ngumpet jam 4:30 sore.

HUJAN

IMG_0008.jpg

Bagi pecinta hujan seperti kami, rasa rindu pada hujan dan bunyi geluduk menjadi besar saat mengetahui betapa jarangnya turun hujan di negeri Kuwait ini. Frekwensi turun hujan hanya bisa dihitung dengan jari -- itu pun bukan jari manusia, mungkin jari kuda :P -- dalam setahun kami menghitung hanya ada 2 hujan besar -- 1 kali sehari penuh, 1 kali dadakan plus hujan es -- dan 4 cipratan hujan ala kadarnya.

CUACA ANOMALI

Kuwait yang terkenal sebagai negeri kering, beberapa kali mengalami fenomena alam anomali. Seperti yang kami alami pada saat hujan es di bulan April lalu, kebetulan bulan-bulan ini adalah sarayat season atau masa-masa transisi dari winter ke summer.

Hail Storm in Kuwait-April 11, 2008
Anomali : Hujan es segede kelereng

Anomali lainnya adalah terjadinya petir. Bulan Mei (masih dalam sarayat season) Kuwait dihujani petir (tanpa turun hujan).

Terakhir adalah saat tingkat kelembaban melonjak dari normal 15% hingga 85% saat beberapa minggu lalu. Udara kering berubah menjadi lembab dan pengap, seperti Jakarta sedang terik-teriknya tiba-tiba turun hujan. Badan jadi pliket dan kemringet ngga karuan. Rasanya setiap saat pingin mandi.. hahahahak.

More about weather journeys.

Saturday, July 26, 2008

Found : 'Kijang' Accessory

by : Pinot



Setelah sekian lama kami menggunakan 'taxi omprengan' pas Mustafa, baru ngeh kalau dia memasang asesori tempelan di tempat isi bahan bakar dengan logo "KIJANG", mirip dengan logo Toyota Kijang di tanah air. Sementara, tidak ada Toyota Kijang di negeri ini, kalau pun ada paling banter Toyota Innova (tanpa Kijang).

Walau bukan asesori resmi Toyota, tapi tetap membuat kami garuk-garuk kepala : bagaimana Kijang ini bisa menclok ke sini?

Thursday, July 24, 2008

Setahun Lewat : Working Place

Ini adalah seri 'laporan khusus' setahun kami menginjakkan kaki di bumi Kuwait, dalam rangka mengenang, merenung dan mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh-Nya kepada kami selama kami di sini.

by : Pinot

Bekerja di mana pun, pasti ada suka dan duka. Dan pinter-pinternya kita menyikapi segala duka, sehingga bisa tetap kerja dalam kondisi suka. Namun, setelah belasan tahun di tempat kerja itu-itu juga, ternyata pindah di tempat kerja baru jadi lebih banyak rasa suka-nya dibanding duka.
  • Orang-orangnya asik. Kadar gelo-nya sih kurang lebih sama dengan rekan-rekan kerja di kantor sebelumnya. Tapi karena yang gelo orang-orang dari belahan dunia lain, rasanya jadi lebih asik. Walau memang, beberapa kali terjadi pergesekan perbedaan adat dan budaya. Apalagi rata-rata orang-orang Arab ini bawaannya sombong dan pinter ngomong. Bahkan yang tengil juga ada *curhat!* Kalau ngomong teriak-teriak seperti orang marah. Membuat kami rada shock awal-awalnya. Tapi setelah sekian lama bekerja dengan mereka -- dan semakin kenal -- pada dasarnya mereka orang-orang yang baik, sopan dan perhatian.



  • Bosnya juga asik. yang kami harapkan dari kantor lama, kini tercapai di kantor baru : boss-nya asik! Berumur hampir paruh baya, boss Bader punya pengalaman yang seabrek-abrek di dunia TV dan film. Walau sudah 40 something, gayanya tetep funky, cuwawakan, mbeling dan rebellion. Bahkan tidak segan-segan ikut gabung bekerja membantu -- sekarang lagi bantuin tracing (kerjaan ece-ece) untuk melengkapi pekerjaan Eman! Best of all, beliau cukup baik dalam meng-handle creative people. Royal dalam memberi reward dan tegas dalam bersikap. Sangat melindungi anak buahnya dari masalah kerjaan, bahkan di luar kerjaan (kami sering meminta tolong padanya jika kami terlibat masalah dan berurusan dengan orang Arab. Kuwaiti tea, ngga ada lawan.. kakakakak) It's hard to find a boss who can balancing and juggling between creativity and administration. Sesuatu yang tidak pernah kami dapatkan di kantor lama.


    Bos Bader jahil motret-motret saat anak buahnya tidur nglembur semaleman

  • Your work, your idea, your deadline. Beberapa kasus, kami ditugaskan untuk membuat pekerjaan grafis yang ide dan rentang waktu kerjanya ditentukan sendiri oleh kami. Memang tidak semua pekerjaan, tapi jika menuntut pekerjaan yang harus berkualitas, kami diberikan otoritas dan tanggung jawab untuk berbuat semaksimal mungkin, mengatur waktu kerjanya dan menyelesaikannya tepat waktu. Hal ini mendorong kami untuk pushing to the edge. Jika ada pekerjaan dadakan yang tidak bisa nego deadline - bahkan nabrak-nabrak weekend - tidak jarang kami harus mengorbankan kualitas. Walau, tentunya, tetap diawasi mata boss Bader yang detail (saking detailnya kadang bikin senewen.. huahahahahaha)
  • Tools. Kami cukup dimanja dengan ketersediaan alat kerja. Komputernya MacPro heaven-edition -- RAM tinggi, HD gede -- plus monitor Cinema Display 24inch 2 buah. Suatu ketika, boss kami datang dari kantor pusat membawa oleh-oleh : Wacom Intuos3 untuk masing-masing designer. Software masih gado-gado antara original (Apple Motion, FinalCut Pro, Color etc) dan versi petani (menunggu anggaran turun.. hehehe). Dan, selain fasilitas komputer, kami diberikan meja, kursi, ruangan dan sofa! Yeah!



  • New Company, New Chaos. Tempat kami bekerja umurnya belum genap setahun. Terbayang betapa 'berantakannya' kalau sudah urusan administrasi. Belum lagi masalah-masalah bermunculan saat on air pertama kalinya. Yang menarik, berhubung kami sudah cukup lama di dunia broadcast, bos Bader beberapa kali meminta pendapat jika menemui kasus-kasus baru, terutama kasus-kasus yang mirip di kantor lama. Been there, done that!


Marina Fuwalk

Banyak hal baru yang kami dapatkan. Dan dari semuanya, bekerja bareng 1 almamater (Aji, Bayu, Daud, Eman, Yoswar) adalah landasan utama kami untuk bisa tetap berjuang bekerja. Tanpa mereka, mungkin Papin tidak bisa tetap bekerja hingga sejauh ini.

More works stories :
- All about works

Related stories :
- Kerjaan kami dibilang 'Gawat'
- Galta Project : 2 bulan untuk 1 project
- Kabar Indonesia dari Rekan non-Indonesia
- Minggu Gempor
- Manusia-manusia Jahil

Wednesday, July 23, 2008

Berburu Mesin Jahit

by : Dita

My Corner

Perburuan itu berakhir sudah. Setelah muter ke sana ke mari mencari mesin jahit, dan sempet juga bertanya-tanya lewat blog ini, di mana gerangan mencari mesin jahit di Kuwait, akhirnya mesin itu kutemukan juga. Tadinya udah sempet mikir mo nyari di ebay atau amazon aja. Abis tanya-tanya sama tukang jualan kain di sini juga mereka gak tau. Udah gitu negara ini sangat tidak bersahabat dengan para crafters...hehehe....hiperbola ya? Abis cari pernak-pernik kerajinan tangan susahnya minta ampun. Udah ngubek ke sana ke mari, nemunya prentilan-prentilan doang, gak ada gitu satu craftstore yang gede dan lengkap.

Sebelum akhirnya gue memutuskan untuk membeli mesin jahit di Lulu Hypermarket, sempet lirik-lirik mesin yang dijual di Carrefour. Sayang pilihannya cuman merk Singer which is pasti mahal!! Di Brand for Less juga sempet nemu keluaran Tchibo/TCM, konon sih katanya merk ini bisa diandelin-lah di Jerman sana *bener gak gitu, Irma, Echa, Isti?*, tapi berhubung gue gak paham merk ini, mending gak usahlah.

Waktu nemu mesin jahit ini di Lulu pun sebenernya masih agak kurang puas. Karena pilihannya cuman satu brand, yaitu Brother. Terus serinya juga gak lengkap, jadi gak banyak pilihan. Tapi setelah dipikir-pikir, ahhhh gue gak butuh yang advance banget kok, yang penting bisa buat jait lurus :D dan cuman untuk keperluan rumah tangga aja kok. Akhirnya gue beli seri yang paling murah dengan fitur 14 jenis jahitan. Mayan, bisa buat beberapa jenis jahit lurus, buat embroidering, bisa buat bikin lubang kancing, dll.

Perburuan berikutnya adalah ngubek-ngubek toko kaiiinnnnnnnnn, bosen liat kainnya IKEA yang modelnya masih itu-itu aja!!!! :D. Gak berburu buku crafting??? Gak usah ditanya deh kalo itu, udah pasrah. Susah! :P Mending cari pattern-pattern gratisan di internet.

Yiippeeeee!!!! Makasih Papin untuk kado ulang tahunnya.




Tuesday, July 22, 2008

The Night was Moist

by : Pinot

Ingat dialog di film Danny DeVitto "Throw Momma from the train"?

"The night was moist."

Kondisi malam ini cocok banget dengan dialog film itu. Saat mau tidur jam 2:00 malam ini, tiba-tiba mendapatkan jendela apartemen yang buram tertutup embun. Wuah! Jarang-jarang melihat fenomena ini. Walau AC apartemen selalu dingin, tapi belum pernah kejadian sampai berembun. 

Pas buka jendela, langsung terasa udara lembab pengap di luar. Kuwait yang terkenal negara super kering, malam ini lembab luar biasa. Ngecek ke internet, salah satu website mengukur tingkat kelembaban malam ini adalah 86% (dengan suhu 30˚ C)! Sementara, kalau melihat tingkat kelembaban normal di bulan ini harusnya berkisar antara 40% hingga 50%. Naik 2 kalinya dong? (sumber)



Ujung-ujungnya hujan nggak ya??? *ngarep-dot-kom*

The night was moist. The air was airy...
Hopefully the rain will falling...
:D

video

Sunday, July 20, 2008

Found : Loyang Beraneka Bentuk

by : Dita

Di postingan kemaren kan Papin cerita kalo nemu action figures-nya Beatles Yellow Submarine. Di areal yang sama Mamin juga menemukan harta karun.....hahaha.....gak mau kalah ceritanya!

Lulu Hypermarket itu emang tempat belanja groceries favorit. Karena hampir sebagian besar bumbu masak Asia dan Indonesia bisa ditemukan di sana. Cuman kalo hari Jumat ke sini, jangan harap bisa melenggang dengan leluasa. Karena penuhnya minta ampun. Hampir sebagian besar pengunjungnya didominasi orang India (cerita lengkap tentang Lulu, di sini).

Udah bolak-balik ke Lulu tapi kita gak pernah "nglirik" Dreammall yang lokasinya satu areal dengan Lulu.....hehehe.....abis sugesti aja, mall kok kayak pasar pagi, mending gak usah dikasih nama mall sekalian, abis kalo mall itu kesannya bangunan besar, rapi, wangi dengan deretan toko-toko menawan :P. Nah, kalo Dreammall ini memang belum seratus persen beroperasi. Lantai atas bahkan sama sekali belum digunakan masih dalam tahap pembangunan. Yang sudah beroperasi adalah lantai basement (kita gak tau deh, ini sebenernya masuk dalam Dreammall ato gak?).

Hari itu, niat iseng untuk eksplor muncul. Sebelum ke Lulu, kami berniat liat-liat dulu ke basement, kali-kali nemu sesuatu yang unik (soalnya udah lama nih kita gak jalan-jalan iseng untuk nyari-nyari tempat unik. Males juga soalnya lagi summer begini, puanasnya puooollll!)

Turun ke basement disambut dengan aroma dupa/wewangian khas Arab yang...ehhhmmm.....wanginya sering bikin kami gak nyaman dan anak-anak batuk-batuk. Di sebelah kanan tangga eskalator turun terlihat toko ikan dan burung. Leia dan Arwen seneng banget ngliatin burung kutilang dan deretan anak-anak ayam yang diberi warna-warni. Mereka tambah seneng lagi karena di sekitarnya adalah toko mainan anak-anak. Sekilas kami langsung menangkap kesan, seperti Pasar Pagi Mangga Dua dengan deretan kios-kios yang menjual aneka barang. Mainan-mainan yang dijual adalah mainan-mainan made in China, persis deh kayak toko-toko mainan ITC. Iseng-iseng kami masuk ke salah satu toko karena tertarik ngeliat tokonya yang penuh banget, bukan cuman sama mainan, tapi juga dengan barang-barang prentilan kebutuhan sehari-hari seperti gunting kuku, sisir, benang jahit sampe piring-piring makan. Nah di toko inilah Papin menemukan harta karunnya. Setelah Papin girang dengan penemuannya dan Arwen serta Leia senang dengan mainan barunya, kami melanjutkan perjalanan.

Di sana-sini terlihat toko-toko pakaian, sepatu, sandal, tas-tas bahkan peralatan elektronik. Khas Mangga Dua deh! Di sebuah sudut kami menemukan toko barang pecah belah dan keperluan rumah tangga. Hmmmmm.....Mamin mah gak bisa liat yang beginian. Byasa deh pikirannya langsung urusan props! Yang dicari pastinya bukan barang biasa tapi barang pecah belah dengan model dan motif unik.

Bener aja kan, feeling Mamin tepat, gak salah deh masuk toko ini. Barang-barang dagangannya semua digelar di bawah, mereka tidak menggunakan rak-rak pajangan. Dari mulai laundry bag, lemari-lemari kecil baik yang berbahan plastik atau kayu, piring aneka bentuk, gelas, panci-panci dari yang kecil sampe yang segede gabon buat jualan bakso ;), ada semua.

Areal tokonya lumayan luas, jadi kita memang musti telaten merhatiin barang satu-satu. Singkatnya, sampailah Mamin di sebuah pojok peralatan baking. Sempat terkesiap, terbelalak dan gak bisa berkata-kata. "YESSSS!!! Ini kan yang selama ini gue cariiiiiii!!!!" Yupppp!!! Mamin menemukan deretan loyang-loyang beraneka rupa ragam bentuk!! Yang kayak beginian barang langka dan susah nyarinya di Kuwait! Mamin udah pernah cerita betapa susahnya berburu peralatan baking di sini apalagi untuk urusan loyang dan cetak mencetak kue. Ya kalo nyarinya loyang standar kotak dan bulet sih banyak. Jadi serasa nemu toko loyang Edi Mayestik.....hehehehe....walopun gak selengkap toko Edi. Ok....tenang tenang....mari kita liat satu-satu.....



.....Ada loyang bongkar pasang kotak!! Ada yang kayak loyang muffin tapi bentuknya macem-macem bukan cuman bulet doang tapi berbentuk hati, kotak, dll. Trus ada juga yang kayak loyang muffin tapi bulet-buletannya berbentuk loyang pie (enak nih buat bikin pie kecil-kecil). Ada loyang donat (yang ini langsung gue samber ber!!). Ada loyang tulban aneka ukuran. Nah itu tuh apa lagi tuh??!! Gubrak! Loyang Madeleines!!! OMG!! Ada loyang Madeleines yang selama ini gue cari-cari!!!!!! (tapi gak beli, nanti aja deh kalo pas butuh yang penting udah tau tempatnya). Ada loyang-loyang silikon aneka bentuk. Duh bisa pingsan deh gue! Pengennya ya beli semuanya :D. Sambil senyum-senyum gue milih-milihin loyang :)) *norak* (sayang motretnya gak bisa detil, harus sneaky-sneaky pake hp).



Buat yang bawa anak kecil, hati-hati kalo ke sini karena kalo emak udah kalap gak liat kanan kiri, takutnya anak-anak jahil tangannya megangin pecah belah yang ada di bawah. Jadi musti sambil ngawasin bocah-bocah, ada bagusnya juga sih jadi gak kalap-kalap amat! :P.

Akhirnya sore itu, kami pulang dengan hati gembira (gak pulang ding, mampir Lulu dulu nyari mesin jahit....story menyusul ya *wink*). Semua menjinjing harta karun masing-masing :D. Dan yang pasti dengan membawa rasa penasaran untuk kembali lagi. Papin penasaran pengen nglengkapin action figure Beatles-nya yang baru ada 2, Mamin pengen melototin lagi loyang-loyang yang lain, dan anak-anak pastinya pengen liat-liat lagi toko mainan yang ngamprah di mana-mana.

Related Stories :
1. Found : Yellow Submarine Action Figures
2. Lulu Rocks!

Saturday, July 19, 2008

Found : Yellow Submarine Action Figures

by : Pinot

Yellow Submarine

Ditemukan action figures The Beatles : Yellow Submarine di sebuah stand toko mainan murah meriah di Dream Mall (namanya keren, padahal cuma toko-toko sekelas pasar pagi) di basement Lulu Hypermarket. Semua barang-barang yang dijual di toko tersebut dihargai 1 KD (Rp 30.000), termasuk 2 action figures The Beatles dari film Yellow Submarine : John Lennon dan Ringo. Yang tadinya mau beli mainan buat Arwen dan Leia, malah bapaknya ikut-ikutan beli mainan. Lha harganya cuma 1 KD -- harga diluar sekitar US$ 15 - US$ 30 bahkan di Amazon.com ada yang mematok hingga US$ 85 -- masak ngga disabet?

Yellow Submarine

Yellow Submarine

Papin jelas jejingkrakan excited ngga karuan bisa nemu barang ini dengan harga sangat murah. Sampai di rumah pun, Papin bolak balik menolak rengekan Arwen yang minta packaging-nya dibuka. Huekekekekek... bapaknya pelit!
Arwen sudah bolak balik menonton Yellow Submarine ini dan suka dengan film tersebut (padahal ceritanya absurd). Tunggu, ya Wen. Action figures Yellow Submarine-nya disimpan dulu sampai kamu sudah gede.

Sayang, action figures Paul dan George tidak ditemukan. Mungkin nyelip somewhere di toko lainnya seperti harta karun yang menunggu digali.

Link :
- Action figures Yellow Submarine : Ringo in Amazon.com
- Action figures Yellow Submarine : John Lennon in Amazon.com
- Spawn.com
- Wikipedia

Wednesday, July 09, 2008

Setahun Lewat : Transportasi

Ini adalah seri 'laporan khusus' setahun kami menginjakkan kaki di bumi Kuwait, dalam rangka mengenang, merenung dan mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh-Nya kepada kami selama kami di sini.

by : Pinot

Jangan berharap banyak dengan sarana transportasi publik di negeri ini. Dengan pendapatan tinggi, bisa beli/sewa mobil dan bahan bakar murah, membuat minat masyarakatnya minim terhadap transportasi publik. Dan akibatnya ketersediaan sarana ini sangat kurang. Belum lagi saat musim panas sekarang, rata-rata pada ogah jalan kaki ke halte (yang cukup jauh di jalan besar dan dengan kondisi halte ala kadarnya) dan rutenya cenderung panjang karena harus ke kota dulu sebagai pusat transit/terminal. Apalagi kantor kami cukup jauh dari apartemen. Selama kami di sini, hanya beberapa kali naik bus. Itu pun malam hari dan winter, kalo siang saat summer gini mending ngadem kalleeeee???


Beberapa cuplikan profil taxi dan supirnya (click to enlarge)

Akhirnya transportasi terpaksa bergantung dengan taxi atau mobil omprengan. Jumlahnya cukup banyak dan mahal, apalagi rata-rata supir taxi di sini pakai argo kuda :P Jarak dekat minimal 1 KD (Rp 30.000). Kami menghabiskan 3 KD (Rp 90.000) sehari atau 3,5 KD (Rp 75.000) dengan taxi langganan. Yang bikin capek nawarnya itu, yang numpang ngga bisa bahasa Arab supir taxinya ngga bisa bahasa Inggris. Klop!


Pak Fulail, item sangar gede tapi demen anak kecil (lagi mbekep Arwen)

Kami punya taxi langganan bernama Fulail dari Srilanka dan teman-temannya (yang juga dari Srilanka). Dia ini mantan inspektur polisi di Srilanka. Menurut kisah, dia dan keluarganya terancam jiwanya karena menjadi sasaran pemberontak Macan Tamil dan ngungsi ke Timur Tengah, menetap di Kuwait sampai sekarang. Karena berangkat dari golongan masyarakat kelas menengah dan terdidik, dia sangat sopan dan hangat kepada kami dan kami pun cukup aman nyaman bersamanya. Mamin, Arwen dan Leia -- hanya bertiga tanpa Papin -- beberapa kali menjadi penumpang Fulail dan kawan-kawan.

Sayang, jika ada Mass Rapid Trans seperti Singapura -- yang menjangkau hampir semua area -- pasti jadi pilihan utama untuk kemana-mana. Seorang rekan kerja Kuwaiti bercerita bahwa 10 tahun lalu sempat ada wacana pembuatan subway dan menjangkau semua lokasi, bahkan sempat dianggarkan di tahun-tahun berikutnya. Namun setelah sekian lama tidak ada kabar dan tidak diketahui rimbanya kemana anggaran tersebut. Kami berkata padanya, mungkin anggaran tersebut masih ada dan diinvestasikan di Indonesia untuk membangun proyek infrastruktur dan ...ehm.. sarana transportasi :D

Untuk saat ini, ngga apa-apa deh bergantung dengan taxi langganan, yang penting tinggal duduk manis sampai tujuan.

More stories about transportation

Related stories :
- Taxi Omprengan Bonus Hair Dryer
- Omprengan Arab
- Si Abah
- Taxi nge-Bronx
- Supir Taxi beristrikan Orang Indonesia
- Jalan-jalan Pakai Bus
- Tareq the Pakistani

Sunday, July 06, 2008

Kicau Burung di Gurun

by : Pinot


Segerombolan burung dara di kawasan kota

Saat di Jakarta dulu, rasanya jarang sekali mendengar kicau burung kalau sudah di tengah kota. Bahkan di kawasan Bintaro tempat tinggal kami, sektor-sektor yang di depan sudah jarang mendengar kicau burung -- kecuali sektor 9 - 10 ke belakang di kawasan yang masih hijau royo-royo.

Sementara, di Kuwait yang sebagian besar areanya didominasi gurun dan padang pasir -- not to mention its temperature and dryness -- kami masih bisa mendengar kicau burung di mana-mana. Bahkan di tengah kota yang dipenuhi hutan beton. Sayang kami tidak terlalu memperhatikan jenis burungnya, tapi sesekali kami mendengar kicau khas kutilang somewhere. Mungkin memang banyak yang memelihara. Ada juga yang keluyuran, seperti yang kami saksikan di pertokoan City Center beberapa hari lalu. Terbang melenggang di antara rak-rak supermarket. Arwen & Leia sampai histeris kegirangan, "Burung! Burung!!"

video
Burung-burung belanja barang-barang promosi di City Center

Rasanya kalau sudah jalan kaki panas-panas gini -- ditampar angin panas, diserbu debu -- mendengar suara kicau burung rasanya jadi sejuk. Teringat kampung halaman, saat kicau burung masih sering menghibur.

Saturday, July 05, 2008

Setahun Lewat : Makanan

Ini adalah seri 'laporan khusus' setahun kami menginjakkan kaki di bumi Kuwait, dalam rangka mengenang, merenung dan mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh-Nya kepada kami selama kami di sini.

Balik lagi setahun lalu. Proses adaptasi yang lumayan jungkir balik adalah adaptasi lidah dan perut pada menu makanan. Bagaimana bisa mengisi perut dengan makanan yang cocok tapi juga gampang didapat dan ngga mahal. Seperti yang terlihat pada diagram, pada awal-awal kedatangan kami jenis makanan yang populer adalah fast 'junk' food. Cocok di lidah, gampang didapat dan relatif murah. Tapi ngga sehat lah kalau tiap hari dijejelin 'junk'.

(click to enlarge)

Solusi makan alternatif saat hari kerja adalah tikka, kebab, roti kobus atau nasi briyanni -- seperti nasi uduk disiram bawang goreng diberi kuah kari. Atau sesekali keroyokan makan martabak Fteera atau ngemil Shawarma. Kalau dompet lagi tebel -- habis gajian -- mampir ke restoran Filipina untuk melahap Chinese Food atau ke Avenue Mall menggasak menu khas restoran Noodle Factory : Bakmi Goreng Indonesia seharga 2,5 KD atau sekitar Rp 75.000!!

Saat akhir pekan, mie instant menjadi pengganjal perut. Atau kadang merebus sarden dan kornet untuk pelengkap menu nasi putih :D

Setahun kemudian, dapur Mamin menjadi dewi penyelamat. Bahkan Aji, Daud dan Yoswar sudah memberanikan diri bertempur di dapur menyiapkan hidangan untuk mereka sendiri. Alhamdulillah kami sudah menemukan cara-cara alternatif untuk mengisi perut, seperti belanja bahan-bahan makanan khas Asia, nemu rempah-rempah, dan tempat belanja murah seperti Lulu atau City Market. Sehingga, pada diagram di atas, posisi mie instant bisa digantikan dengan masakan sendiri yang dijamin cocok dengan selera kampung halaman, murah, gampang didapat dan tentu saja sehat.

Thursday, July 03, 2008

Genap 1 Tahun

by : Pinot

Nggak kerasa sudah 1 tahun Papin menginjakkan kakinya di padang pasir negeri ini. Kebayang lagi rasa sesak dan tersayatnya hati saat berpisah dengan keluarga Neverland di bandara Soekarno Hatta.


Photo session terakhir sebelum berpisah selama 4 bulan lebih

Buat sahabat dan teman-teman yang sudah duluan lebih lama bermukim di sini, 1 tahun mungkin ngga ada artinya.. huehehehhehe. Tapi bagi kami, mahluk-mahluk ndeso yang ngga pernah keluar kandang, it's big gigantic leap.

Alhamdulillah dengan rasa syukur tak terhingga kepada Nya kami bisa berkumpul lagi dan bertualang bersama, hingga kini. Dan terima kasih tak terhingga kepada sahabat dan rekan yang membantu kami untuk survive di sini, terutama keluarga Mas Heru. Serta tentu saja, terima kasih kepada 5 mahluk alumnus RCTI lainnya (Aji, Bayu, Daud, Eman & Yoswar) yang sudah ikutan bareng bertualang.

More about first month in Kuwait here.