Our previous journey: Kuwait

Tuesday, June 24, 2008

Graphic Designer can Cook

by : Pinot & Dita

Ketrampilan memasak kayaknya adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki jika tinggal di negeri orang. Gak ada si mbok ato jajanan kaki lima yang dapat diandalkan untuk menyediakan sajian pengisi perut. Sesekali mungkin bisa aja makan di luar. Tapi kalo tiap hari makan/jajan di luar, yaaaaa bisa jebol dong kantong ini. Belum lagi urusan selera yang seringnya gak kompatibel sama lidah Asia ;). Seperti juga mungkin teman-teman perantauan yang lain, sering putus asa bingung mau makan apa, akhirnya makanan instan model indomie dijadikan penyelamat usus dari cacing-cacing kelaparan :D. Tapi gak mungkin kan makan indomie tiap hari, gak mungkin juga cuman ceplok telor terus menerus. Akhirnya ya mau gak mau, 'dipaksa' juga masuk dapur

Untuk Papin dan Bayu -- yang keluarga sudah bergabung di Kuwait -- istri tercinta adalah savior (wooiii Papin dan Bayu curang!!). Hampir setiap hari, bekal masakan Mamin selalu menemani saat bekerja. Kebutuhan makan sesuai selera bisa dikatakan terpenuhi. Dan tentu saja menghemat pengeluaran. Lain halnya dengan Aji, Daud dan Yoswar. Tidak ada yang bisa diandalkan untuk memasak di dapur. Dulu pada saat kami masih tinggal bareng-bareng dalam satu apartemen, urusan makanan masih bisa terbantu dengan masakan Mamin. Tiap hari Mamin, seperti layaknya pengusaha catering (soalnya yang dimasak dalam porsi gede :D), menyiapkan makanan dan bekal untuk penduduk apartemen. Nah, sekarang masalahnya Mamin udah pensiun ngempanin anak orang (baca : ngasih makan anak orang). Sejak kami berpisah dan pindah ke apartemen masing-masing, Mamin tidak lagi menyiapkan makanan untuk teman-teman. Dan akhirnya, mau gak mau mereka harus memasak sendiri!

Mereka-mereka ini yang biasa berurusan dengan spesifikasi komputer (Macintosh), software Adobe AfterEffect, plug-in Trapcode 3D stroke, Wacom tablet, harddisk FireWire, QuickTime movie dan seabreg urusan kerjaan grafis, kini mencoba untuk terjun ke kancah dapur -- dunia yang berbeda dengan dunia kerja sehari-hari.

Simak deh video ini, bagaimana mereka mencoba terjun ke dalam dunia persilatan cooking dan saat-saat nongkrong diisi dengan obrolan seputar resep, bumbu dan hardware dapur. Serta Aji yang masak cah kangkung dengan lihainya dan tentu saja hasilnya layak dimakan...rr.. ng.. lebih tepat : cukup enak dan sedap!



Btw... pernah tahu ada quote "Most famous chef are men". Bukan ngga mungkin mereka jadi famous chef suatu saat nanti :D
Post a Comment