Our previous journey: Kuwait

Tuesday, February 24, 2015

Bryant Park

bryantpark1

Park adalah satu tempat yang sering direkomendasikan teman-teman yang tinggal di NY atau pernah ke NY sebagai tempat yang harus dikunjungi. Tapi lagi winter gini, agak susah ya menikmati main di taman. Selain dingin, juga banyak salju licin, gak nyaman buat bermain.

bryantpark5

Satu taman yang cukup terkenal dan wajib dikunjungi adalah Bryant Park. Terletak di antara Fifth & Sixth Avenues dan 40th & 42nd streets di Midtown Manhattan, persis di sebelah New York Public Library. Berhubung lagi winter, tamannya ditutup digantikan dengan ice skating rink dan cafe non permanen.

bryantpark2

Leia dan Neo seneng banget lari-larian di atas taman yang ditutupi karpet. Mengejar burung-burung merpati yang banyak beterbangan mencari hangatnya matahari.

bryantpark3

Bryant Park yang pasti akan kami kunjungi lagi nanti di saat spring dan summer. Buat ngangetin badan sambil baca-baca, bisa mampir ke New York Public Library atau mampir ke Kinokuniya di seberang taman.

bryantpark4

Papin sekalian bikin Vine pemain ice skating professional yang lagi rehearsal di sana.
(UPDATE: ternyata pasangan pemain ini adalah atlet Winter Olympics sohor dan berkomentar tentag Vine-nya (link & link)).



Laundromat



Satu hal yang bakal jadi kebiasaan di sini adalah mencuci baju di laundromat. Karena beberapa apartemen tidak mempunyai fasilitas washer & dryer. Jadi laundromat memang merupakan pilihan yang sangat populer di sini. Kebetulan apartemen sementara kami tidak mempunyai fasilitas cuci mencuci ini. Maka dari itu setelah cucian cukup menggunung, kami memutuskan untuk pertama kalinya pergi ke laundromat.



Yang pertama kali harus dilakukan adalah menukar koin. Karena mesin cuci dioperasikan dengan menggunakan koin-koin quarter dollar. Untuk sekali mencuci selama 30 menit, kami membutuhkan 2.5 dollar.



Sebelum mengoperasikan mesin cuci, kami memasukkan baju-baju ke dalam mesin. Setelah itu memasukkan sabun cuci dan pewangi pakaian yang kami bawa sendiri ke dalam container di atas mesin cuci. Sehabis itu baru memasukkan koin dan memencet tombol start. 30 menit bisa ditunggu, bisa juga ditinggal untuk kemudian diambil. Kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar tempat cuci, mencari coffee shop dan es krim buat krucils.



30 menit tak terasa berlalu, kami kembali ke laundromat dan cucian sudah siap dipindahkan ke mesin pengering. Masukkan lagi koin-koin quarter sebanyak 1 dollar, dryer beroperasi selama 25 menit dengan tingkat panas medium.



Sambil menunggu cucian kering, kami melakukan grocery shopping dulu, karena laundromat-nya agak kecil tidak ada tempat menunggu, jadi agak repot kalo harus serombongan sirkus menunggu di dalam. Di New York, konon laundromat dikuasai oleh bangsa Korea. Benar saja, ternyata tempat cuci di dekat apartemen kami ini dimiliki oleh orang Korea. Kebetulan bapaknya ada di situ pas kita lagi nyuci. Dia sempet nebak apakah kita dari Korea juga. Gak di Kuwait, gak di NY....tetep aja disangka Korea :D.

Sunday, February 22, 2015

Yard Sale

Satu hal yang kami suka adalah berburu yard sale dan thrifting. Sore itu, saat sedang menikmati matahari yang lagi lumayan jarang nongol, kami menemukan yard sale di sekitar apartemen.



Sasarannya adalah old dan vintage furniture. Lumayan, jalan-jalan sore dapet coffee table seharga 5 dollar dan topi cantik seharga 3 dollar.

Thursday, February 19, 2015

Artists & Craftman Supply



Yang menyenangkan dari tinggal di Williamsburg adalah adanya toko Artists & Craftman Supply ini. Lokasinya di Metropolitan Ave, cuman 10 menit jalan kaki dari apartemen.



Mau cari peralatan gambar dan lukis ada. Cat-cat kayu sampai kayu-kayu lempengan juga ada. Benang-benang wool lumayan lah, walopun masih kurang lengkap koleksinya. Kuas, wax stamp, kebutuhan origami, dll hampir semuanya ada di toko ini. Surga rasanya. Senang berlama-lama di toko ini. Yang awalnya cuman mau beli gunting, pulang-pulang bisa belanja sekantong gede :D.

Nintendo World & Rockefeller Center



Satu hal yang diidam-idamkan Arwen, Leia, Neo adalah berkunjung ke Nintendo World di dekat Rockefeller Center.

Hari ini, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah Rockefeller Plaza. Mereka happy banget bisa mendatangi Pokemon Center NY.



Setelah puas liat-liat *belum sih kayaknya*, kami melanjutkan jalan ke arah ice skating ring di Rockefeller Center. Gak main ice skating cuman foto-foto aja di sekitar situ. Dingin banget abisnyaaaaa!!!



Sebelum pergi, dengan menahan dingin Papin menyempatkan bikin Vine: merekam time-lapse proses menggambar patung Prometheus di Rockefeller Plaza yang sohor itu.

Enjoying the First Snow

This is the first for many many things in the new adventure.





Friday, February 13, 2015

Ngidam Shawarma

Buat kami, home itu sekarang ada 2, Indonesia dan Kuwait. Gak bisa dipungkiri 7 tahun di Kuwait membuat lidah dan hati kami lekat dengan hidup di sana. Salah satu hal yang sering membuat kami rindu bukan cuman makanan Indonesia, tapi juga makanan Arab. Shawarma dan kebab cukup mudah ditemui di sini. Tapi ya tentunya gak seotentik di jazirah Arab.

princestreet2

Pas lagi jalan-jalan ke Prince street, untuk pertama kalinya nemuin food truck yang jual makanan Arab. Penjualnya seorang bapak India yang rupanya tidak terlalu paham dengan nama-nama makanan Arab yang kita sebutin. Ya iyalah, gak bisa berharap banyak. Paling juga mereka taunya shawarma, kebab dan falafel.

princestreet3

Ternyata rasanya jauh beda dari yang kita harapin :D

Wednesday, February 11, 2015

Pengalaman pertama naik taksi



Hari ini kami memutuskan untuk mencoba naik taksi. Karena rute yang musti ditempuh dari Target Faltbush Ave Brooklyn menuju apartemen di Williamsburg, agak nanggung. Kalo mau naik subway, musti jalan agak jauh dulu. Kasian krucils udah capek. Mau naik bis juga udah males mikirin rutenya. Pokoknya judulnya udah capek, males mikir karena sebeumnya kita abis keliling-keliling di Fulton Street.



















Jauh-jauh sampai sini, nemunya supir bengali lagi. Namanya Bakar Khan, mungkin masih sepupuan sama Jamal (mentang-mentang sesama bengali!) tapi bahasa inggrisnya lebih manusiawi. Yaiyalah, tinggal 15 tahun di New York masa ngga ada improvisasi bahasa?

Pas masuk taksinya, Papin pikir dia cukup tech-savvy dengan GPS device di kanan dan iPhone di kiri. Sepertinya sudah memanfaatkan teknologi lalu lintas macam Google Maps atau Waze. Ternyata dia terheran-heran saat Papin bukan Google Maps dan memberi tahu dia kalau jalanan macet sepanjang 7km dan makan waktu tempuh 14 menit sampai tujuan.
"What is that?" tanyanya.

Akhirnya Papin jelaskan panjang lebar dan bantu install Google Maps di iPhone dia. Dari situ ngobrol-ngobrol, anaknya dua, satu cowok ngga betah tinggal di New York, menikah dan kembali ke Bangladesh. "This country is not for muslim, you know. I'm here only for money. Nothing else."

Ternyata dia ngga mudeng jalan, malah Papin yang ngarahin. "You look very familiar with this street. Have you been here before?"
Papin jawab "No, this is the first time. But thanks to technology, I know the better route."
Dianya nurut Papin suruh belok-belok.



















Lalu, muncullah kekhasan hindi worker yang merantau, nanya-nanya tempat kerja, jadi apa, berapa lama terus mulai menasehati segala macam. Kami ingat dulu saat pertama kali kenal supir Pakistani, Srilankan dan Bangladeshi saat di Kuwait, pasti kepo banget dengan latar belakang pekerjaan. Dan pasti buntut-buntutnya nanya gaji. Dan belum sampai Bakar melontarkan pertanyaan itu, taxi kami tiba di tujuan :D.

Tuesday, February 10, 2015

Berkunjung ke kantor Papin

Hari ini, kami ikut Papin berkunjung ke kantornya di daerah Midtown. Setelah Papin selesai tur di sana, kami ngangetin badan dulu di Pret a Manger yang letaknya gak jauh dari kantor Papin.



















Seperti biasa, sambil makan kami mengeluarkan buku dan alat-alat gambar. Sampai saat ini kami memang agak sulit menemukan cafe yang cukup nyaman untuk melakukan aktivitas cafe painter. Karena tipikal orang di New York adalah selalu bergerak cepat. Mereka terbiasa makan sambil jalan. Cafe-cafe dan resto biasanya kecil dan tidak cukup nyaman untuk melakukan aktivitas gambar-gambar. Selain ramai dan crowded, jadi membuat kamipun tidak santai untuk menggambar dan melukis.



Akhirnya beberapa kali kami hanya melakukan quick sketching saja.








Atau sekedar duduk-duduk menikmati orang-orang yang lalu lalang.

Monday, February 09, 2015

Gerimis Es

Hari ini bangun tidur disambut hujan salju. Begitu ngintip ke jendela, jalanan dan mobil sudah diselimuti salju.



Arwen, Leia, Neo gak sabar pengen main di luar dan "pamer" sama sepupu-sepupunya di Indonesia. Setelah bersiap dengan jaket tebal, kami memutuskan untuk keluar sebentar mencari sarapan sambil grocery shopping.


Untung apartemen kami dikelilingi grocery stores, restoran dan supermarket. Semuanya ada dalam jangkauan jalan kaki.

 

Cuaca hari ini berkisar antara -2 & -3ÂșC.

Jalan-jalan ke Manhattan

Hari ini setelah sarapan pagi, kami bersiap untuk jalan-jalan ke Manhattan. Sekalian pengen ngetest subway. Karena kami tinggal di Williamsburg Brooklyn, stasiun terdekat ada di Graham Ave. Jalan kaki 15 menit lah dari apartemen. Perjalanan menuju stasiun lumayan bikin happy, karena jadi makin tau, di lingkungan tempat kita tinggal banyak resto-resto kecil, ada apotik, toko stationery, ada toko buah (ini penting) dan yang paling paling penting........ADA TOKO ARTS & CRAFTS. Walaupun gak sempet masuk, tapi next time kami berencana untuk  mengunjungi toko tersebut.


Sesampainya di stasiun, kami agak bingung di mana harus membeli metro card dan tipe seperti apa yang baiknya kami beli. Waktu di London jelas sekali ditunjukkan, kartu untuk naik tube bisa didapat di mana aja dan kami dengan mudah juga mendapatkan informasi tentang isi ulang kartu dan paket-paket yang ditawarkan. Bahkan kartu tube bisa diisi ulang di grocery store. Akhirnya kami datangi petugas di loket yang dengan cuek menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Setelah tau kami berlima, 2 dewasa dan 3 anak kecil, dia menyarankan untuk membeli tiket pulang pergi saja ke Herald Square untuk Papin dan Mamin. Ok yang penting bisa pergi pulang dulu, masalah teknis soal kartu metro ini nanti kami tanyakan lagi ke teman-teman di sini.

Untuk 2 orang dewasa, kami hanya mendapatkan 1 kartu, yang berarti begitu Papin/Mamin masuk duluan (berikut masing-masing dengan 1/2 krcuils) lewat turnstiles, setelah itu kartu diserahkan ke orang berikutnya untuk digesek lagi. Hmmmm sedikit merepotkan. Apalagi musti lewat turnstiles yang sempit itu dengan untel-untelan bareng bocah-bocah. Gak ada pintu khusus family kayaknya. Tapi kata seorang temen di stasiun gede biasanya ada pintu khusus yang bisa dibuka petugas.

Kesan pertama memang terlihat jorok dan tak terawat ya stasiun-stasiun di sini, gak kayak London yang resik dan terang benderang. Seru, jadi bisa melihat sesuatu yang berbeda lagi dan punya pengalaman lain. Selain itu, line subwaynya juga banyak banget, jadi mungkin karena baru pertama kali, bingung rasanya.

Keluar di Herald Square langsung disambut pemandangan Manhattan yang begitu rame (yaiyalah rame melulu pasti). 

Tujuan utama kami ke sini adalah mencari sepatu boots buat Arwen dan baju-baju training untuk anak-anak. Karena selama kami transit di Indo 4 bulan kemarin, kaki Arwen bertambah panjang rupanya. Jadi udah gak muat lagi. Keluar masuk toko, ke Macy's, Old Navy, Payless ternyata udah susah mencari snowboots. Mungkin karena seharusnya udah lewat musimnya. Jadi gagal deh perburuan hari ini. Kami hanya mendapatkan celana-celana training buat krucils.




Dinginnya NYC, gak bisa membuat kami berlama-lama jalan-jalan dengan krucils. Selain karena masih capek, mereka juga belum terbiasa dengan cuaca yang dingin ekstrim. Maklumlah laskar-laskar padang pasir ini terbiasa dengan panas ekstrim di Timur Tengah.



Sebelum pulang kami menyempatkan diri berfoto di 34th St. dengan latar belakang Empire State building.



Pukul 5 sore saat matahari mulai terbenam, kami memutuskan pulang. Dari Herald Square menuju Graham Avenue ternyata subway-nya lumayan padat. Mungkin ini termasuk rush hour. Sesampainya di Graham Ave, menyempatkan untuk duduk sebentar karena kaki lumayan penat dan krucils terlihat lelah, sebelum melanjutkan perjalanan ke apartemen.

Touch Down NYC



Yay!! Touch down di JFK Airport, New York. Setelah perjalanan panjang 24 jam CGK-DBX-JFK. Perjalanan yang cukup membuat pantat panas dan tepos, diisi dengan nonton film, denger musik, nonton film lagi, dengerin musik lagi, main game, ngecek pesawat lagi terbang di atas negara mana dan yang pasti gambar-gambar. Kegiatan terakhir lumayan mengalihkan perhatian kok gak sampe-sampe :D.



Pukul 7.45 pagi waktu New York pesawat landing di JFK Airport. Sureal rasanya saat melihat keluar jendela pesawat. Dominasi putihnya salju nampak di kejauhan di bawah sana. Kalau dulu di Kuwait, saat mendarat disambut pemandangan coklat pasir dan ditampar angin panas, kali ini kami disambut pemandangan putih dan angin dingin.


 

Urusan di imigrasi berjalan relatif lancar, walaupun antrian sangat panjang. Setelah itu, kami musti mengambil bagasi yang cukup banyak (BANYAK BANGET ooiiii bukan CUKUP BANYAK :D). Iya 10 koper aja belum termasuk yang handcarry. Maklumlah imigran-imigran ini mau pindah negara bukan cuman mau liburan. Biaya gotong-gotong porter resmi ini (pakai id card) 25 USD, sudah termasuk mendorong troli besar melewati gerbang custom.

Dibantu porter kami mencari taksi. Ternyata banyak juga taksi gelap di sini. Mereka mencari penghasilan tambahan dengan menyewakan mobilnya. Setelah sepakat harga 90 USD JFK-Brooklyn, kami mulai memasukkan koper-koper ke bagasi mobil. Sang porter sempat bertanya-tanya, "kok gak ditawar?" HORANGKAYAH!!!! hahahaha nggak ding. Pertama, pernah diinfo temen saat dia mengambil taksi besar dicharge 180 USD, jadi kami pikir toh harga yang ditawarkan sudah setengahnya. Kedua, kami sudah cukup lelah untuk berargumentasi panjang lebar setelah penerbangan panjang. Yang terbayang cuman kasur dan sofa buat selonjoran.




Perjalanan JFK-Brooklyn ditempuh dengan sangat singkat, hanya 20 menit saja. Pak Sopir yang doyan bercanda sempet ngomel-ngomel karena ada macet sedikit. Langsung aja disamber Mamin, "yaelah Pak, Bapak musti mampir ke Jakarta kalo gitu!" Terus katanya, "Oiya iya saya denger itu di berita, katanya macet banget yah, di India juga gitu." Ooopss! :D

Pemandangan sepanjang jalan didominasi warna putih, pohon-pohon kering, gloomy dan dingin. Arwen, Leia, Neo sempat memejamkan mata sejenak selama perjalanan singkat ini.





Akhirnya sampailah kami di apartemen sementara, yang kami booking via AirBnB di daerah Williamsburg, Brooklyn. Pak supir dengan setengah bercanda bilang kalo gak mau ketemu kita lagi, karena kopernya banyak bener. Hahahahaa!!!! Maap ya Pak, orang-orang ini bukan cuman turis soalnya, tapi pindah negara.

Setelah selesai beberes koper dan selonjoran sejenak, kami memutuskan untuk makan siang. Yang gampang dan cepet! McD to the rescue! Hahahahaha....soalnya deket banget dari apartemen dan gak perlu pake baju super tebel karena belum bongkar-bongkar koper dan jaraknya pun gak terlalu jauh.



Krucils excited banget lari-larian di antara salju dan lempar-lemparan snowball. Norak!! Ya maklum laskar-laskar padang pasir ini terbiasa liat pasir dan badai pasir.



 

Selesai makan, kami mampir ke Staples buat cari perlengkapan mandi, cemilan, kopi, dll. Abis itu pulang, terus kruntelan leyeh-leyeh nyari anget-anget di apartemen.

Alhamdulilah, terimakasih Tuhan buat pengalaman ini. Mari mengisinya dengan cerita-cerita seru Neverland Family.




Oiya yang menarik, di hari ini juga 51 tahun silam The Beatles menginjakkan kaki mereka pertama kalinya di JFK Airport, sebagai awal mereka diterima masyarakat Amerika. Dulu: Fab four. Kini: Fab five hehehe.