Our previous journey: Kuwait

Wednesday, July 09, 2008

Setahun Lewat : Transportasi

Ini adalah seri 'laporan khusus' setahun kami menginjakkan kaki di bumi Kuwait, dalam rangka mengenang, merenung dan mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh-Nya kepada kami selama kami di sini.

by : Pinot

Jangan berharap banyak dengan sarana transportasi publik di negeri ini. Dengan pendapatan tinggi, bisa beli/sewa mobil dan bahan bakar murah, membuat minat masyarakatnya minim terhadap transportasi publik. Dan akibatnya ketersediaan sarana ini sangat kurang. Belum lagi saat musim panas sekarang, rata-rata pada ogah jalan kaki ke halte (yang cukup jauh di jalan besar dan dengan kondisi halte ala kadarnya) dan rutenya cenderung panjang karena harus ke kota dulu sebagai pusat transit/terminal. Apalagi kantor kami cukup jauh dari apartemen. Selama kami di sini, hanya beberapa kali naik bus. Itu pun malam hari dan winter, kalo siang saat summer gini mending ngadem kalleeeee???


Beberapa cuplikan profil taxi dan supirnya (click to enlarge)

Akhirnya transportasi terpaksa bergantung dengan taxi atau mobil omprengan. Jumlahnya cukup banyak dan mahal, apalagi rata-rata supir taxi di sini pakai argo kuda :P Jarak dekat minimal 1 KD (Rp 30.000). Kami menghabiskan 3 KD (Rp 90.000) sehari atau 3,5 KD (Rp 75.000) dengan taxi langganan. Yang bikin capek nawarnya itu, yang numpang ngga bisa bahasa Arab supir taxinya ngga bisa bahasa Inggris. Klop!


Pak Fulail, item sangar gede tapi demen anak kecil (lagi mbekep Arwen)

Kami punya taxi langganan bernama Fulail dari Srilanka dan teman-temannya (yang juga dari Srilanka). Dia ini mantan inspektur polisi di Srilanka. Menurut kisah, dia dan keluarganya terancam jiwanya karena menjadi sasaran pemberontak Macan Tamil dan ngungsi ke Timur Tengah, menetap di Kuwait sampai sekarang. Karena berangkat dari golongan masyarakat kelas menengah dan terdidik, dia sangat sopan dan hangat kepada kami dan kami pun cukup aman nyaman bersamanya. Mamin, Arwen dan Leia -- hanya bertiga tanpa Papin -- beberapa kali menjadi penumpang Fulail dan kawan-kawan.

Sayang, jika ada Mass Rapid Trans seperti Singapura -- yang menjangkau hampir semua area -- pasti jadi pilihan utama untuk kemana-mana. Seorang rekan kerja Kuwaiti bercerita bahwa 10 tahun lalu sempat ada wacana pembuatan subway dan menjangkau semua lokasi, bahkan sempat dianggarkan di tahun-tahun berikutnya. Namun setelah sekian lama tidak ada kabar dan tidak diketahui rimbanya kemana anggaran tersebut. Kami berkata padanya, mungkin anggaran tersebut masih ada dan diinvestasikan di Indonesia untuk membangun proyek infrastruktur dan ...ehm.. sarana transportasi :D

Untuk saat ini, ngga apa-apa deh bergantung dengan taxi langganan, yang penting tinggal duduk manis sampai tujuan.

More stories about transportation

Related stories :
- Taxi Omprengan Bonus Hair Dryer
- Omprengan Arab
- Si Abah
- Taxi nge-Bronx
- Supir Taxi beristrikan Orang Indonesia
- Jalan-jalan Pakai Bus
- Tareq the Pakistani
Post a Comment