Our previous journey: Kuwait

Friday, February 08, 2008

Sosok Tulus di Tengah Keasingan

by : Dita

Menemukan sosok tulus yang dengan rendah hati dan ringan tangan membantu tentunya barang langka di negara asing. Jangankan mengharapkan bantuan, kalo bisa semua dilakukan sendiri, deh. Lain cerita kalo sesama orang Indonesia yah, suasana kekeluargaan di sini cukup bagus. Yang kami maksud di sini adalah sosok orang asing bukan saudara setanah air dan sebangsa.

Beberapa saat lalu, kami membeli tempat tidur bekas (biar bekas yang penting IKEA.....huehehehe...*sombong*) beserta kasur lengkap dengan bantal-bantal, duvet dan sarung-sarungnya dan beberapa shelves rak buku dari seorang expat berkebangsaan Inggris yang mau pindah flat. Cukup murah memang, tapi yang jadi soal adalah gimana cara ngangkutnya. Paling nggak butuh minimal sebuah mini van.

Setelah melalui pencarian yang cukup membingungkan (sempet minta bantuan mas Heru juga tapi beliau lagi sibuk) karena terbentur masalah deadline si expat yang musti buru-buru pindah, sementara mobil belum kami dapatkan sebelum tenggat waktu yang diberikan miss Helen si bule Inggris ini. Akhirnya kami pasrah, berusaha negoisasi ulang dengan Helen soal fleksibilitas waktu pengambilan. Abis barangnya mo dilepas sayang banget, kami udah jatuh cinta sama bed frame-nya :).

But Thanks God, menjelang detik-detik deadline (halah kayak ujian skripsi aja!), Uncle (begitu Arwen memanggil) Fulail, Mr. Nice Guy supir taxi langganan yang baik hati, menginformasikan bahwa sepupunya yang supir truk bisa segera datang membantu. Phuuiihhh...leganya!

Akhirnya Papin berangkat dijemput Newfa, begitu ia memperkenalkan dirinya. Seorang Srilangka blasteran Malaysia, makanya tampangnya lebih ng-Asia. Mamin sempet kaget, kirain Uncle Newfa bawa truk pick up kecil, gataunya mobil box gede yang biasa dipake supplier sayuran untuk memasok barang ke pasar swalayan. Beliau memang bekerja sebagai pengantar barang-barang kebutuhan rumah tangga ke klinik atau supermarket.

Singkat cerita, sampailah Papin dan Uncle Newfa ke apartemen kami dengan membawa hasil "belanjaan" :). Mereka menggotong tempat tidur, kasur dan barang-barang lainnya ke flat kami. Setelah usai, kami menanyakan padanya, berapa yang harus kami bayar untuk sewa truk dan upah tenaganya.

Kami tercengang...
Saat pria setengah baya ini mengatakan "tidak usah".

"Tidak usah" dengan pandangan mata tulus dan rendah hati. Begitu sopannya beliau.

Heh?????!!!! Surprise! Di negeri asing dan berurusan dengan orang asing pula kami menemukan sosok yang tulus membantu. Bayangkan, dia baru mengenal kami dan untuk mengoperasikan truknya kan bukan tanpa biaya!

Saat kami sodorkan lembaran Dinar padanya, ia masih dengan halus menolak. Sumpah...Mamin terharu! Dan insists ke Papin untuk memberinya "tanda jasa".

Akhirnya setelah kami paksa, beliau mau menerima pemberian kami. Itupun dibarter dengan sisa-sisa barang keperluan rumah tangga yang ada di truknya, karena beliau merasa tak enak menerima uang dari kami.

Itu juga, masih dengan komentar, "you know this is too much." Ia menegaskan betapa susahnya mencari uang dan yang kami berikan menurutnya jumlah yang terlalu besar. Jadi merasa tertohok, mungkin buat kami uang segitu bisa buat 2 kali makan di resto, sementara untuknya arti uang ini begitu besar.

Ahhhhh...Uncle Newfa...ambil saja untuk anak istrimu, untukmu kami ikhlas dan tulus memberi. Jabat erat hangat untukmu dan keluarga. Semoga rejeki dan kebahagiaan selalu menyertaimu.
Post a Comment