Our previous journey: Kuwait

Friday, August 17, 2007

17 Agustus di Kuwait


MacBook putih, casing merah & latar belakang Kuwait Liberation Tower

Mardhika, Indonesia! Hari ini seumur hidup 'merayakan' kemerdekaan negeri sendiri di negara orang. Rasa nasionalisme yang sebelumnya ala kadarnya, sekarang mulai terasa lebih kental. Maklum, makin jauh makin dekat rasanya.

"And ever has it been known that love knows not its own depth until the hour of separation."
Khalil Gibran


Belum banyak yang bisa dilakukan untuk Indonesia hingga kini. Tapi, rasa nge-Ndonesia yang menebal di Kuwait membuat Papin dkk merasa perlu melakukan sesuatu. Ngga banyak-banyak, ngga neko-neko, ngga ngawang-awang. Hanya sekedar perlu memberikan citra plus kepada orang-orang di sini tentang Indonesia. Seperti yang sudah diketahui, citra Indonesia di Timur Tengah umumnya adalah TKI atau TKW. Populasinya bisa sekitar 80% dibanding profesi lain seperti pilot, dokter, suster & expatriat di berbagai bidang seperti minyak atau stasiun TV seperti yang dilakukan Papin dkk.

Citra 'pembantu' ini tampak pada saat kita melakukan hubungan komunikasi dengan banyak orang. Jika kita bepergian ke tempat keramaian (seperti mall, cafe, restaurant, supermarket) wajah Asia kita sering dikira orang Filipina atau Thailand. Bagi mereka, Indonesia mestinya itu nyumput di dapur atau bersih-bersih di rumah majikan. Dan tidak bebas berkeliaran terutama saat malam. Kalau pun jalan ke tempat keramaian, pastinya berperan sebagai baby sitter dorong stroller anak majikan.

Memang bukan sebuah peran yang besar, tapi bercerita dan memberikan citra plus kepada banyak orang tentang Indonesia adalah sesuatu yang patut dilakukan. Sesuatu yang memang seharusnya dilakukan saat di negara orang.
Post a Comment