Our previous journey: Kuwait

Tuesday, April 15, 2008

Selembar Foto untuk Pak Ismail

by : Dita



Bukan! Ini bukan selebritis Arab. Pun bukan pesohor ternama. Anak-anak tidak sedang berfoto dengan seorang aktor terkenal di Jazirah ini.

Perkenalkan, ini adalah Ismail. Seorang lelaki setengah baya yang profesinya jauh dari gemerlap dunia keartisan. Ia bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Beliau dengan santunnya, malah yang menyodorkan dirinya untuk berfoto bersama anak-anak kami. Pada saat ia menghampiri, kami memang sedang melakukan aktifitas potret-motret di teras kantor PACI, sambil menunggu taxi langganan datang menjemput. Tiba-tiba saja ia datang dengan tersenyum-senyum menyaksikan tingkah Arwen dan Leia yang sedang difoto Mamin. Bahkan ia tampak sibuk ikut mengarahkan gaya kedua balita yang gak bisa diem ini.

Setelah sibuk atur gaya anak-anak, ujug-ujug si bapak ikutan ngejogrok di sebelah anak-anak. Dia bilang, "take picture, please!" Terus terang awalnya agak bertanya-tanya juga, "ngapain ya ni orang?" Owalaahhhh...gak taunya beliau cuman mencari celah untuk bisa berfoto bersama 2 peri kecil kami...pengen ikutan difoto dia!

Setelah selesai sesi pemotretan bersamanya, ia bertanya apakah fotonya bisa diprint? Dari sinilah akhirnya meluncur sebuah percakapan yang penuh arti. Seperti biasa kalo ketemu orang yang seneng anak-anak, pasti akan kami tanyakan, "do you have kids?"

Pak Ismail punya keluarga, anak dan istri. Beliau merantau ke tanah (eh pasir ya) Kuwait untuk bisa menghidupi keluarganya. Pekerjaannya adalah tukang bersih-bersih di areal parkir dan teras kantor pemerintahan tempat pembuatan kartu identitas penduduk/civil id.

"So you want to send this picture to your family?" kata kami.

"Yes, I want to show them," sambutnya.

"Where is your family? Here in Kuwait?" tanya kami.

"No, they are in Bangladesh," jawabnya nanar.

"Have you been going back home...to Bangladesh... since you were here?"

Tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan beliau bercerita bahwa ia udah 3 tahun gak pulang dan gak ketemu keluarganya. Pak Ismail bilang dia gak punya uang, musti ngumpulin duit buat pulang. Gajinya kecil, cuman 20 KD (whatttttttttt the!!!)...Ok mari kita berhitung...1 KD itu sama dengan sekitar kurang lebih Rp 33.000,-. Silahkan kalikan sendiri 20 dengan 33.000. Hasilnya?? Gak kebayang deh bisa hidup di negara yang apa-apa serba mahal ini. Gila man...di Jakarta aja empot-empotan sebulan hidup dengan duit 600 ribu-an. Lah ini??? Di Kuwait??? Yang apa-apa mahal (iya kalo dibandingin dengan gaji Indonesia...kekekekkk). Itupun beliau masih musti ngirim buat keluarganya. Nah untuk survive di sini piye toh? Trus terang sampe nulis postingan ini, gue masih amazed dan bertanya-tanya...kok bisa ya? Apa dia mengada-ada dengan cerita soal gajinya (tapi gue tepis pikiran itu...tampaknya ia jujur apa adanya).

Back to the story, terlihat ia mengusap setitik air mata di sudut matanya. Aduuhhh gak tahan euy, gue langsung tercekat dan pura-pura nunduk biar gak ikutan mewek. Pak Ismail bercerita bagaimana dia rindu anak-anak dan keluarganya. Oohhhh...poor him!! Terlihat benar di matanya (loohhh katanya nunduk, kok bisa liat matanya?) betapa besar rasa rindu akan keluarganya. Sampe dia bolak-balik nanya, kapan kita bisa ketemuan supaya dia bisa ngambil print-print-an foto dirinya bersama Arwen dan Leia. Supaya bisa segera dikirimkan ke keluarganya.

Tanpa banyak mikir, kami pun bikin janji untuk ketemu di tempat yang sama, beberapa hari lagi. Gak mikir lagi mau dicetak di mana (soalnya kita juga belum pernah cetak-cetak foto di sini). Pokoknya Pak Ismail bisa senang nerima hasil fotonya. Ia pun bolak-balik mengucapkan terima kasih banyak pada kami. No worries, Pak.

Sampai Papin pulang kantor, angka 20 KD itu masih berputar-putar ngintilin pikiran gue. Gak abis pikir gue! Dan Papin pun bercerita, setelah mendapat informasi dan konfirmasi dari sumber yang bisa diandalkan, YAAA memang BENAR gaji para tukang bersih-bersih itu CUMAN 20 KD per bulan. Tapi, ada TAPInya loh! Mereka biasanya punya 'sabetan' atau sampingan yang cukup gede, dari sabetan itu mereka bisa ngirim 2000 KD tiap bulan ke keluarganya. Whatttt??!!!! Emang apa sampingannya?? Yaaa....agak-agak ilegal memang. Seperti menjadi pemasok minuman keras, menjadi mucikari atau mencari perempuan-perempuan yang bisa diperdaya untuk dijadikan pelacur, dsb. Heee???

*Siigghhhh*...Sutralah...Calling us naive...Tapi emang kita naif kok. Mikir yang positif ajalah, gak mikir ke arah sana. Gak ada ruginya juga nyenengin orang. Dan gue sih gak mikir Pak Ismail seperti itu. Mungkin memang beliau tidak punya uang untuk sekedar membuat foto diri di sebuah tempat foto. Mungkin memang itu bukan prioritasnya. Mungkin beliau memang harus berhemat (jiss 600 ribu..cckkk ckkk ckkkk). Ada yang lebih penting untuk dipikirkan demi menghidupi keluarganya. Dan hanya dengan selembar foto, sudah bisa membuatnya bahagia dan berbinar-binar. Aaarrrgghhh...Pak Ismail don't worry, kami akan datang dengan lembaran-lembaran foto dirimu bersama anak-anak kami!!

Kesederhanaanmu udah memberikan pelajaran berharga di pagi hari ini. Betapa kami semakin mensyukuri apa yang kami miliki, betapa kami sangat berterimakasih kepadaNya atas kehidupan yang kami jalani dan kami berdoa semoga Pak Ismail bisa segera bertemu dengan anak istrinya dan diberikan kelancaran rejeki (di jalan yang benar tentunya)...Aminnn.

2 comments:

Anonymous said...

Wah jangan-jangan untuk ngirim fotonya nanti dia ngutang.
donorkan dinarnya, papin..

:p

anniePrasetio said...

salam kenal ya mba sebelumnya&salam dr Jkt :)
aku lg blogwalking niy...baca2 ketemu posting ini... :)
aku sampe terharu mba baca posting-an ini..speecless-lah pokoknya...