Our previous journey: Kuwait

Tuesday, September 11, 2007

Malam Panjang di Kuwait


Sejak awal, kami memang tidak berniat datang ke acara seremonial Al Watan TV. Pertama, kami tidak membawa perlengkapan pesta (jas, dasi, sepatu cantik dkk). Kedua, jelas kami tidak akan merasa nyaman dengan suasana dan lingkungan pesta di negeri ini. Ketiga, mending pulang tidur - Hell yeah! We need lotsa rest! Dan saat menjelang malam, kami sudah siap memanggil taxi untuk ke Sultan - membeli berbagai macam kebutuhan bulanan - dan pulang. Namun, tiba-tiba Sami menelepon kami dan menanyakan keberadaan kami. "Where are you, traitors? Leaving without permission?" Ternyata kami berempat diharuskan hadir di acara tersebut. Adalah kehormatan besar jika seseorang diundang pada acara tersebut, tidak semua orang bisa sembarangan datang, begitu kata Sami. Oke dddeeeee....

Walhasil, kami harus pulang dulu mengganti busana ala kadarnya biar terlihat (agak) rapi. Untung Papin bawa batik dan sepatu cantik jadi masih bisa tampil ganteng *uhuiy*. Dalam kondisi setengah mengantuk, kami pun dijemput 2 rekan kami, Bably & Ghesan. Yah, paling tidak kami bisa mengisi perut yang sudah mulai teriak minta diisi.

Sampai di sana, dengan semangat demi-makan-enak kami mencari tempat duduk di antara tetamu. Cukup kikuk, karena satu-satunya wajah Asia yang duduk di meja makan malam hanya kami, sementara wajah Asia lainnya adalah pelayan pesta. Semua mata tertuju kepada kami. Yeah! 'Dare to be different' ceritanya! Yang penting makan!

Ternyata, menu makan malam (main course) sudah selesai. Yang ada tinggal dessert es krim & puding. Berarti tidak ada makanan beneran! Kami berempat pandang-pandangan dengan wajah kaget dan prihatin. We're gonna stuck in this party with our belly empty! What to do????!!! Bahkan hiburan musik di panggung pun tidak membantu kami bisa 'nyaman' berlama-lama di sini.

Lihatlah tampang Eman yang kelaparan dan pasrah


Setelah terjebak pasrah selama hampir 2 jam dan perut mulai sakit, akhirnya kami bisa meninggalkan tempat bersama rekan-rekan kami. Bersama Bably, kami pun menuju Burger King di kawasan Al Fanar untuk mengisi perut dan bisa belanja di Sultan setelahnya. 

Namun dasar apes, entah karena apa Sultan tutup. Rencana beli rice-cooker dan pernak perniknya batal sudah. Kami pun dengan gontai memanggil taxi untuk segera menuntaskan malam panjang ini dengan tidur.

More photos & videos in here
Post a Comment