Our previous journey: Kuwait

Tuesday, February 15, 2005

Menyapa Jiwa Anak-Anak Kami

Sore itu saya mengajak Arwen, putri kami, dan suami berkunjung ke sebuah Plaza di wilayah Jakarta Selatan. Setelah berkemas-kemas dengan segambreng gembolan Arwen, kami memacu kendaraan menuju Plaza tersebut. Sesampai di sana, kami memutuskan untuk duduk-duduk sambil ngopi-ngopi saja di sebuah kedai kopi. Sambil menikmati secangkir Cafe Mocca panas, kami bercanda ria dengan putri kami, maklum Arwen sudah mulai senang bercanda dan tertawa-tawa.

Tak lama kemudian, terlihat sepasang suami istri datang dengan dua anak, satu berusia sekitar 5 tahunan, yang satu lagi masih bayi, beserta seorang baby sitter-nya. Mereka memilih duduk di samping meja kami. Saya bertemu pandang dengan sang Ibu dan melemparkan senyum, ia pun membalas senyum saya. Mereka kemudian asyik dengan aktifitas masing-masing. Kami terhanyut kembali dalam "pembicaraan" dengan Arwen. Tiba-tiba saya terusik dengan suara tangisan bayi. Saya palingkan kepala ke meja sebelah, ternyata si bayi memang menangis dan tampaknya agak mengamuk. Lima belas menit berlalu, dan tangisan sang bayi tak kunjung mereda. Si baby sitter terlihat sibuk dan bingung menenangkan bayi mungil itu. Gendong sana, gendong sini, bujuk sana, bujuk sini. Sementara itu, tahu apa yang dilakukan Ibunda tercinta? Tak tampak raut wajah risau dari mimik mukanya, asyik menyeruput secangkir kopi panas dan berbincang-bincang dengan suaminya. Hanyut dalam urusan mereka sendiri. Lima menit kemudian, entah karena sudah selesai urusannya, atau karena tak enak bayinya menangis terus, mereka memutuskan pergi. Saya dan suami hanya melongo saja memandangi kepergian suami istri itu, dengan sang baby sitter yang menggendong bayi, mengikuti di belakang mereka.

Saya kembali teringat, beberapa minggu yang lalu saya bersama suami berkunjung ke rumah rekan kerja suami saya. Sambutan tuan dan nyonya rumah cukup hangat. Sang istri dan saya terlibat pembicaraan khas ibu-ibu, biasalah soal rumah tangga, perawatan anak, dsb. Tiba-tiba terlihat putri kecilnya yang cantik berlari ke arah sang mama, bergelayut manja di pundak mamanya. Saya mengajak si kecil berbicara dan ia menjawabnya dengan mata berbinar. Tak lama, ia menarik-narik baju mamanya, minta diambilkan sepeda mini di sebelah mamanya. Si Ibu asyik berbincang dengan saya, sementara konsentrasi saya terpecah, merasa terganggu dengan rengekan sang anak yang tidak ditanggapi ibunya.

"Minta sama suster sana!" Sontak saya kaget mendengar kata-kata itu keluar dari mulut sang Mama. Saya bergumam dalam hati, "Hei, kamu Ibunya dan sepeda itu ada di sebelahmu! Apa susahnya mengambilkan sebentar untuk anakmu!" Yang membuat saya makin takjub, ia sempat berkeluh kesah, karena bayinya yang berusia 5 bulan sering rewel, sehingga membuatnya merasa pusing tak bisa tidur. Ia menyampaikannya dengan nada bicara seolah kehadiran sang bayi mengganggu kehidupannya. Tapi ia merasa beruntung memiliki baby sitter yang dapat mengurus dan mengatasi anak-anaknya.
Ingatan saya kembali berputar ke beberapa waktu silam, saat saya bersama teman sedang kongkow-kongkow di sebuah mal. Pandangan saya terhenti pada seorang Ibu muda yang kerepotan membawa barang-barang belanjaan hasil berburu diskonnya. Dua meter di belakangnya seorang baby sitter mendorong kereta bayi dengan seorang bayi cantik di dalamnya. Sang Ibu menghardik si baby sitter untuk berjalan lebih cepat. Trenyuh hati saya, sang Ibu lebih rela berberat-berat ria dengan barang belanjaannya dibandingkan menggendong atau mendampingi bayinya sendiri.

Dari kejadian-kejadian itu, yang terus berputar-putar dalam benak saya dan suami malam itu, hati saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan. Apakah ini sebuah kewajaran, menyerahkan sepenuhnya urusan anak kepada baby sitter, dengan asumsi mereka sudah membayar dan berhak menggunakan semaksimal mungkin jasa baby sitter? Istilah sekarangnya "ogah rugi." Seorang Ibu datang ke penyalur, minta baby sitter, bayar, pulang. Dan baby sitter bertugas mengurusi semuanya, dari mengganti popok, memberi makan anak, menenangkannya jika rewel dan mengamuk. Anak menangis, tinggal teriak, "suster!" dan suster pun datang. Instan sekali! Ibu hanya tahu beres saja. Lalu tugas Ibu sebagai orangtua di mana? Apakah rasa cinta itu hanya ditunjukkan dengan mencukupi segala kebutuhan materi sang anak semata? Asal semua kebutuhan fisiknya cukup, ada baby sitter yang mengurus semua kebutuhannya, ya sudah! beres semua kan?!

Ok, katakanlah mereka orang sibuk, sehari-hari bekerja, berangkat pagi dan pulang malam di kala dalam kedua waktu tersebut sang buah hati tertidur lelap. Tapi tak ada salahnya toh, di akhir pekan mereka meluangkan waktu yang sangat berharga itu dengan buah hati mereka tanpa sepenuhnya "direcoki" baby sitter? Apa susahnya sih mendekap bayi mereka sendiri dengan penuh cinta? Apa susahnya membelai dengan lembut kulit mereka yang halus? Mengisi jiwanya dengan canda tawa, menenangkan tangisannya dengan mata kita yang berbinar-binar, bersyukur memiliki anugerah terindah seperti mereka.
Tidakkah terpikir dalam benak-benak mereka, akan jadi apa anak-anak mereka suatu hari nanti? sadarkah mereka bahwa anak-anak mereka tak pernah tersentuh jiwa dan fisiknya oleh orangtua mereka sendiri?

Saya sendiri bukan pengguna jasa baby sitter, karena saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih untuk mengurus dan mengasuh anak saya sendiri. Pengorbanan yang sangat sangat berarti hasilnya bagi saya. Pengorbanan yang terbayar dengan senyum kecil yang menghiasi wajah our little precious. Akan tetapi saya juga tidak menyalahkan para orangtua yang karena suatu hal atau keadaan harus menggunakan jasa baby sitter. Hanya saja, sebaiknya kita menjadi bijaksana dalam mengasuh buah hati kita.
Terlalu naifkah saya memandang semua ini, memandang ke-instan-an ini? Membayangkan suatu hari nanti generasi anak-anak kita menjadi orang-orang yang tak punya hati, generasi yang tidak "beres" tingkah lakunya. Jangan salahkan mereka, anak-anak ini!
Dan malam itu, ketika peri kecil kami telah tidur, saya mengecup pipinya sambil berbisik dalam lelapnya, "Mommy tak akan membiarkan jiwamu hampa, Nak."(Dita)



"If we could raise one generation with unconditional love, there would be no Hitlers. We need to teach the next generation of children from Day One that they are responsible for their lives. Mankind's greatest gift, also its greatest curse, is that we have free choice. We can make our choices built from love or from fear."
(Dr. Elizabeth Kubler-Ross)
Post a Comment