Our previous journey: Kuwait

Sunday, February 20, 2005

Mendidik Anak

Tadi pagi saat sedang mendengarkan radio female, ada topik pembicaran menarik mengenai cara mendidik anak. Salah satu narasumbernya adalah bapak Krisnamurti seorang motivator dan mindsetter. Kalau boleh saya rangkum hasil pembicaraan penyiar dengan bpk Krisna adalah :

Mendidik anak itu gampang, menurut pak Krisna (wwhoooaaaa...bisa ditimpuk ibu2 sejakarta tuh bapak...huehehehehehe...kidding!!!) seperti menginstal program pd komputer yg kosong. Apa yg akan kita instal, program itulah yang akan dijalankan anak kita.

Menurut beliau, kuncinya adalah memahami bahasa otak anak. Bahasa otak anak adalah melalui bahasa gambar. Mereka seperti kita juga, akan mengasosiasikan kata-kata dengan gambar pada otaknya. Misalnya jika kita mendengar kata pisang, apa yg muncul dalam otak kita? tentunya gambaran buah pisang kan dalam otak kita? Lalu kalo kita ditanya buah polokokok. Kita akan mengernyitkan dahi, apakah itu? KIta tidak mengetahuinya karena memang kita belum pernah mendapatkan informasi/gambaran buah polokokok itu seperti apa. Jika saya katakan buah itu seperti gelas, tentunya di lain waktu jika anda ditanya seperti apa buah polokokok itu, tentunya anda akan menggambarkannya seperti gelas. Begitu pula dengan anak kecil. Apa yg kita ajarkan, itulah yg mereka terima.

Sering kali kita mendengar orgtua berkata pd anaknya, "jangan nonton tv dekat2!!" mereka akan menangkapnya/menggambarkan dalam otaknya sebagai nonton tv itu harus dekat2, karena mereka tdk mengerti arti kata "jangan", maka jadilah mereka menonton tv lebih dekat. Semakin dibilang jangan, semakin ngotot mereka untuk menonton tv dalam jarak dekat. Atau kasus lain, "jangan main air!" maka mereka menterjemahkannya sebagai main air. Kita yg tidak memahami bahasa otak mereka akan berpikiran "kok ngeyel bgt ya ni, anak! gak bisa dibilangin!"

Prinsipnya, menurut pak Krisna, Don't think what u don't want, tapi think what u want! Jadi jika kita melarang sesuatu pada anak kita, usahakan jangan menggunakan kata "jangan" tapi arahkan mereka, kenapa kita melarang mereka melakukan hal itu. Misalnya jangan nonton tv dekat2! diganti dengan "nontonnya di sini ya nak, duduk yang manis, supaya matanya tidak rusak." Selalu beri alasan kenapa kita melarang anak melakukan suatu hal dan arahkan mereka.

Ngomong-ngomong soal larangan, pantesan yah, kalo kita bilang ke suami kita "jangan pulang malem2" pulangnya tetep aja malem yahhhh...wakakakakakakakakssss!!!

Hhhhhmmm pembicaraan yg menarik menurut saya, sayang hanya berlangsung sebentar.(Dita)
Post a Comment