Nama bangku taman di Central Park ini dinamai Charles B. Stover Bench atau The Whisper Bench. Tepatnya di Shakespeare Garden, nyempil dekat kastil Belvedere. Dinamai bangku berbisik karena kalau kita berbisik di salah satu sisi bangku, suaranya akan mengalir ke sisi lainnya dan akan terdengar dengan jelas walau berjarak sekitar 3 meter dari si pembisik. Monggo dicek videonya, bakal merinding sendiri kalau ternyata ada yang bisik-bisik saat sendirian hahaha.
Whisper bench di Central Park. Tempat duduk kalo bisik-bisik di salah satu sisi, kedengeran di sisi lainnya yg berjarak 3 meter. Nyeremin 😂 pic.twitter.com/nqZsWJusCa
Salah satu tips merantau adalah tidak boleh kehilangan rasa sebagai 'turis' untuk bisa menikmati suasana keseharian dan mengapresiasi tempat kita tinggal. Times Square adalah daerah yang sebenarnya paling jarang kami singgahi karena ya, kemriyep, penuh hiruk pikuk turis, padat manusia.
Malam ini kami sengaja main ke sana. Sekalian nge-test lensa zoom vintage yang baru kami dapat di eBay. Ternyata Times Square cakep juga kalau malam hahaha (ekemana ajaaa?)
Jelang pemilihan presiden, suasana berasa agak tegang. Berjalan di depan Trump Tower juga mesti siap dipelototin aparat & NYPD dengan seksama. Mereka sibuk 'scanning' mana yang turis & mana yang mau bikin rusuh. Suatu ketika kami bermaksud membeli kopi Starbucks di dalam lobi gedung. Seorang petugas keamanan bertanya dengan galak "Kamu mau kemana?" Begitu dijawab mau beli kopi di dalam, dikasih wanti-wanti untuk beli kopi saja dan jangan lama-lama. Ebuset. Di dalam pun mesti harus diperiksa barang bawaan.
You must take the "A" train
To go to Sugar Hill way up in Harlem
If you miss the "A" train
You`ll find you missed the quickest way to Harlem
Demikian sepenggal lagu jazz klasik "Take The A Train" yang diciptakan Duke Ellington & dinyanyikan Ella Fitzgerald, kebetulan kedua legenda jazz ini memang tinggal di kawasan Sugar Hill, Harlem. Kawasan ini kebanyakan dihuni masyarakat kulit hitam elit yang berpengaruh pada kultur & politik Amerika di sekitar tahun 1930-1940 dan disebut-sebut sebagai pusat pergerakan Harlem Renaissance.
Nama Sugar Hill memang dimaksudkan sebagai daerah perbukitan dengan kehidupan yang makmur dan sejahtera (sweet life) bagi masyarakat kulit hitam. Untuk ke kawasan ini bisa menggunakan kereta A yang berhenti di utara Manhattan. Kereta A sendiri merupakan jalur kereta tertua dan terpanjang di NYC.
Berjalan-jalan di kawasan ini memang memberi suasana unik dan kesan tersendiri. Selain bentuk bangunannya yang sedikit berbeda dengan bagian lain di Manhattan, masyarakatnya didominasi kulit hitam namun kami juga melihat banyak kulit putih, Asian bahkan toko yang menjual peralatan shalat juga ada.
Tempat yang menarik untuk dikunjungi lagi, sambil mendengarkan lagu "Take The A Train" ♪ ♫
Dekat rumah kami ada 2 jembatan besar yang menyeberang East River - menghubungkan Queens dengan Manhattan, Bronx dan upstate - Robert F. Kennedy dan Hell's Gate (khusus untuk kereta api).
Jembatan Robert F. Kennedy terbagi 3 ruas: Queens, Manhattan dan Bronx. Semua terhubung di sebuah pulau di tengah-tengah bernama Randall Island.
Karena jembatan ini bisa dilewati dengan berjalan kaki, hari ini kami mencoba menyeberang ke Randall Island yang berjarak 1,7 km dari tangga naik di Astoria Boulevard hingga tangga turun di Randall Island. Dengan jalan timik-timik bareng krucil, perjalanan ditempuh sekitar 40 menit. Cukup lama, tapi pemandangannya sangat keren, bikin ngga berasa capek. Yang malesin, saat krucil pecicilan, bapaknya beberapa kali panik ngga jelas. Maklum, rada-rada takut ketinggian hahaha.
Winter is coming.
Walau udara masih relatif panas, kami sudah tidak sabar untuk jalan-jalan di luar. Sore ini kami ke pasar tradisional Kuwait di Mubarakiya. Inilah beberapa jepretan Mamin di Instagram.
Sebagai negara terkering di permukaan planet ini, pemerintah Kuwait terlihat sangat berusaha serius memperindah & menghijaukan negaranya. Setiap sudut distrik pasti ada taman yang luas & hijau. Dan tidak lupa menanam karangan bunga di pinggir jalan. Tentu saja biaya pembuatan & pemeliharaannya sangat mahal dibanding Jakarta. Maklum, ditanam di pasir & sangat jarang hujan.
Gedung bersejarah ini berdiri berjejer dengan beberapa gedun tua yang katanya dijadikan daerah heritage Kuwait. Membaca "THANKS ALLIES" bisa ditebak ini pasti peninggalan jaman invasi Irak awal tahun 90an.
Ever pointing randomly to a coordinate of an unknown place on map & wondering "What does it look? What kind of place is it?"
Days ago, Ali was wandering around in the middle of the desert & took some unique snapshots. It's not a special particular place especially here in Kuwait.
But still, it's the detail of a small coordinate dot on earth. Welcome to 29.0295, 47.7821.
Siapa bilang Kuwait cuma padang pasir? Di sebuah tempat di Jahra dekat perbatasan Irak, terdapat lahan peternakan & perkebunan. Dengan luas berhektar-hektar, ladang, kebun & sawah hijau terhampar. Berbagai jenis kebutuhan pangan lokal seperti sayuran tersedia di sini.
Perkebunan ini dimiliki oleh Kuwaiti dan memperkerjakan kaum pendatang di antaranya orang Indonesia. Lumayan buat yang kangen dengan suasana perkebunan & sawah bisa ke sini. Tinggal bikin saung & buka restoran Sunda. Wilujeng sumping!
Berasa lagi foto-foto di Garut. "Sini neng. Mamang poto yah?"
Bertahun-tahun lalu saat masih di RCTI, makan siang bareng temen kerja di luar kantor atau mall dengan menu makanan Indonesia adalah ritual normal. Sekarang, setelah jauh di Kuwait, akhirnya bisa lagi mengulang ritual yang sama: makan siang bareng temen kerja eks RCTi di luar kantor dengan menu (pause sejenak. wait for it) makanan Indonesia!
Satu lagi restoran Indonesia di buka di sebuah mall di Farwaniya, tepatnya di Makhateer mall (lihat lokasi). Terletak di lantai 3, bersebelahan dengan beberapa restoran lain seperti Shrimpy & Pizza Hut serta restoran-restoran Filipino.
Pilihan hidangan yang disajikan juga sangat variatif, dari mie yamin, nasi goreng sampai dengan ketoprak tersedia. Favorit Papin adalah es campur. Beneran berasa lagi makan di kantin koperasi RCTI jaman dulu.
Dengan makin banyaknya restoran Indonesia, semakin tidak terasa kalau kami tidak jauh dari kampung halaman. Semoga restorannya langgeng dan sukses!
Same old ritual: berangkat, makan, pulang tidur di mobil.
Tapi berkesan di New Dehli. Tempat tersebut di bilangan Maliya atau Salhiya Complex. Suasananya seperti Pasar Baru Jakarta. Sangat sedikit orang arab, kebanyakan India (Pakistan, Bangladesh & Srilanka) dan beberapa Filipina atau Indonesia.
Bandara. Entah kenapa ngga pernah nyaman dengan tempat ini. Isinya penuh dengan keribetan, pemeriksaan, birokratis, administratif, sanksi, aturan, do & don't, petugas, etc etc etc. Hehehehe.. Berangkat seorang diri saja sudah mules bawa'annya, apalagi ini bawa keluarga sekampung (Papin, Mamin, Arwen, Leia dan Eman). Walau sudah percaya diri bahwa passport Indonesia bisa VoA (Visa-on-Arrival) di Jordan, tetap saja tiba-tiba perut mules saat petugas check in Jazeera Airways mempertanyakan berkas visa kami. Wajah sih tetep cool (dan suhu memang cool 19˚C), tapi tetap berkeringat karena nahan mules.
Alhamdulillah, semua lancar dan kami pun naik pesawat hengkang ke Jordan. Perjalanan memakan waktu 2 jam dengan pemandangan gurun Arab Saudi. Menjelang bandara internasional Queen Alia Jordan, pemandangan sedikit berbeda dengan dihiasi perbukitan berbatu dan cukup banyak pepohonan hijau di permukaannya.
Terbang di atas Kingdom of Saudi Arabia
Bandara lagi. Tapi entah mengapa rasa mules itu tidak terlalu terasa saat tiba di bandara internasional Jordan ini. Padahal kami masih harus gambling tentang urusan VoA passport kami (karena sempet denger kabar burung bahwa yang bisa mendapatkan VoA hanya yang berprofesi sebagai Engineer - sementara Papin dan Eman 'hanya' Graphic Designer). Tiba di Jordan kami merasakan aura yang lebih hangat dan ramah. Saat mengurus VoA pun kami merasa cukup tenang, demonstrasi perut mules tidak dirasakan sampai membayar visa 10 Jordan Dinar (Rp 160 ribuan) per kepala. Lolos!
Saat keluar dari gerbang imigrasi, kami sudah janjian dengan teman mahasiswa di Jordan bernama Issromi yang akan menemani kami keluyuran di Jordan. Dengan bahasa arab yang sudah ngelotok dan medhok, beliau berjasa banyak dalam urusan komunikasi dengan masyarakat lokal, terutama dengan taxi bandara. Saat di bandara, harga taxi sudah ditetapkan 20 JD (Rp 300 ribuan) sampai di 2 tujuan (rumah sepupu Eman dan hotel kami). Sampai di tujuan, ternyata sang sopir meminta lebih menjadi 25 JD. Oleh Issromi ditolak. Sempat ngotot-ngototan namun diakhiri senyum dan jabat tangan antara sopir dan Issromi. Kok bisa? Ternyata oleh Issromi, sang sopir diperintahkan membaca "Subhan'Allah" (Allah Maha Suci) dan langsung 'adem' ngga ngotot lagi. Hehehehehe.. (menurut beliau, itu kata-kata kunci kalo udah ngotot-ngototan sama warga setempat).
Selama perjalanan dihiasi pemandangan berbukit dan rerimbunan pohon cemara (click for geotag/location)
Hueee.. sudah lama ngga lihat skubek ala jetmatic, kota Amman banyak ditemui kendaraan roda dua ini (click for geotag/location)
Sebenernya rencana begitu tiba di Jordan, pengennya langsung city tour ke Citadel/Jabal Al-Qal'a (bukit peninggalan romawi), tapi melihat waktu yang sudah menjelang gelap dan kondisi krucils yang sedikit lelah, kami putuskan untuk menundanya sampai besok.
Jalan rayanya didominasi turunan, tanjakan, flyover, underpass dan tunnel menembus bukit (click for geotag/location)
Hari pertama tiba di Jordan, kami isi dengan mencari makan di City Mall yang letaknya tidak berjauhan dengan Mecca Mall (sejauh ini baru ada 2 mall besar di Jordan, sepertinya negara ini belum jor-joran membangun mall). Karena sudah keburu laper, kami putuskan untuk mencari makan yang gampang aja dan cepet. Waaahhhh kaget juga waktu waktu melihat struk pembayaran. Udah lama makan nggak dipajekin di Kuwait, di Jordan ternyata kena pajak. Besarnya kurang lebih 30% dari total harga makanan yang dibayarkan. Issromi pun bercerita bahwa negara ini memang memberlakukan pajak di berbagai sektor. Maklum negara berkembang yang penghasilan utamanya hanya dari sektor pariwisata dan import garam dari Laut Mati (Dead Sea).
Setelah kenyang, kami mengunjungi pasar Ballad....wuuiiihhhhh baru dateng udah ke pusat oleh-oleh dan souvenir khas Jordan. Soalnya besok-besok pengennya emang fokus ke travelling, jadi cari-cari oleh-olehnya hari pertama aja ;). Untuk yang ingin berkunjung ke Jordan, kami sarankan membeli oleh-oleh di pasar ini, harganya jauh lebih murah daripada membeli pernak-pernik di gift shop, jangan takut untuk menawar karena mereka juga mau ditawar. Penjualnya pun ramah-ramah, apalagi kalo kita bawa anak kecil, mereka mau kasih harga lebih murah lagi (katanya, "for your daughter")....huahahahaha....dasar banci diskon ya, kita mah seneng-seneng aja!
Seberapa ramah penduduk Jordan? Silakan tengok video ini :D
Sepanjang perjalanan di dalam kota Amman, kami sangat terpukau dengan pemandangan kota yang berbukit-bukit. Cantik sebenernya, cuman sayang agak kurang teratur dan tidak terlalu resik (bersih). Bau asap knalpot yang memenuhi udara juga gak beda jauh dengan kondisi di Jakarta. Pokoknya kondisi dan situasi kotanya reminds us of our home country lah! Cuman bedanya, tingkat kriminalitas di kota ini sangat sangatlah kecil, boleh dikata hampir tidak ada. Jadi memang sangat turis-friendly, orang-orangnya pun ramah dan bersahaja terhadap pendatang (berbeda dengan penduduk asli di Kuwait yang kebanyakan terlihat angkuh).
Pengemis wanita di daerah Ballad (kontras dengan Kuwait yang sangat amat jarang melihat pengemis (click for geotag/location)
Habis berbelanja, kami memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat menyiapkan tenaga untuk city tour keesokan harinya.
Today Expenses : 40 JD : Visa on Arrival (4 orang) 20 JD : taxi bandara ke hotel (atau dari Bandara Queen Alia ke Amman City. Jangan mau digetok lebih dari itu, karena yang bener memang harganya 20 JD) Untuk informasi mengenai guide - Bapak Issromi dan Ismail, silahkan hubungi kami japri.
Kisaran harga souvenir : 1 JD (Rp 20.000-an) : pernik-pernik kecil seperti bookmark, magnet kulkas, mini sculpture 3 JD - 5 JD (Rp 50.000-an) : kaos Jordan (low quality of design) 5 JD - 10 JD (Rp 200.000-300.000 an) : barang tekstil seperti selendang atau pashmina 1 JD - 5 JD (Rp 20.000-an - Rp 50.000-an) : kalung-kalung, gelang, tasbih 30 JD (Rp 500.000-an) : karpet kecil Untuk kerajinan perak biasanya pake ditimbang-timbang dulu, baru nanti ditentukan harganya
Toko yang khusus menjual pernak pernik makanan dan barang Filipina, Srilanka, Bangladesh, Pakistan, India ngamprah di mana-mana di Kuwait sini. Tapi yang khusus menjual makanan dan barang Indonesia sangat jarang. Biasanya makanan dan barang Indonesia dijual dan digabung dalam toko yang menjual makanan dan barang Asia.
Ada satu toko yang dari dulu pengen kita kunjungi, namanya Jakarta Grocery (di kalangan temen-temen Indonesia, dikenal sebagai TOKO JAKARTA), terletak di bilangan Kuwait City. Konon mereka menjual "prentilan" bumbu masak khas Indonesia. Minggu lalu, akhirnya kami menyempatkan diri mampir ke toko tersebut. Tokonya nyempil di pertokoan Souk Al Kabeer dan tidak terlalu besar. Tapi makanan dan barang yang dijual cukup mewakili toko kelontong atau warung yang biasa dijumpai di Indonesia.
Lumayan membantu kerinduan akan barang-barang kebutuhan sehari-hari (terutama bumbu-bumbu masaknya) dari tanah air. Cuman teteupppp masih ada yang kurang......gak ada teh botol!!! :D
Kami pikir, Souq Sharq udah mall paling top deh untuk segi view. Bukan sekedar mall biasa di tengah perkotaan. Itu sih gak laku buat kami, di Jakarta juga banyak. Kuwait emang lagi kayak Jakarta nih, di mana-mana yang dibangun mall dan pusat perbelanjaan.....pusing liatnya! Yang jadi tempat gaul paling wokeh sekarang adalah The Avenues. Buat kami sasaran kalo ke Avenues sih cuman IKEA, Carrefour, Al-Ghanim Electronic, iCity toko Mac dan Baroue sebuah toko mainan anak-anak yang cukup besar dan lengkap. Kadang kalo ke Avenues kita cuman ke tempat-tempat itu, karena keburu eneg duluan mallnya guede pisan, inipun masih akan diperluas lagi.
Balik lagi ke Souq Sharq, dulu kami pernah bilang bahwa tempat itu bisa mencuri hati kami. Apalagi dinikmati saat winter ditemani angin dingin yang berhembus smriwing. Anak-anak juga bisa bebas berlarian di area dermaga yang cantik, dengan pemandangan laut lepas. Ternyata, kami menemukan lagi sebuah mall yang gak kalah cantiknya. Adalah Al-Kout Mall yang terletak di Fahaheel yang berhasil mencuri hati kami lagi :D. Juga terletak di pinggir laut dan didesain sedemikian rupa sehingga membuat tempat ini menjadi begitu cantik dan romantis. Jauh memang dari area kami tinggal, harus ditempuh dengan perjalanan yang memakan waktu sekitar kurang lebih setengah jam, berjarak 30 km lebih dari rumah. Tapi worth it banget!! Perjalanan jauh nan gersang terbayarkan dengan view ciamik dari mall ini.
Sayang, kami datang di saat summer, yang gak memungkinkan untuk duduk-duduk di luar kafe demi menikmati air mancur menari yang ditingkahi alunan musik klasik. Pokoknya, mall ini udah masuk dalam list teratas kami yang harus dikunjungi pada saat winter.
Cafe-cafe di pinggir kolam dancing fountain, dengan latar belakang laut lepas
Mallnya sendiri terbagi menjadi 2 area, dan kedua area ini dihubungkan oleh sebuah koridor dengan pemandangan dancing fountain atau air mancur menari. Satu bagian adalah area The Sultan Center (supermarket yang terkenal di kalangan ekspat, karena banyak barang-barang import) dan Pasar Sayur. Bagian lainnya adalah pusat perbelanjaan yang sebenernya sih gak terlalu istimewa, isinya cuman toko-toko pakaian dan perlengkapan tampil (huhhh....susah amat sih bikin toko buku! Ini kekurangannya mall-mall di Kuwait yang gak pernah punya toko buku). Toko-tokonya juga gak banyak. Brand-brand kelas mothercare gak ada, jadi kalo mau cari perlengkapan bayi agak susah di sini. Kalo buat kami, sebenernya untuk view memang Souq Sharq kalah set dari Al-Kout Mall. Tapi secara keseluruhan, kalo mau dapet view dan isi mall, ya mending ke Souq Sharq :).
Kemaren waktu ke sini, gak sempet ambil foto-foto cantik, karena udara lagi super duper duper lembab (gak enak banget lah pokoknya, udara jadi pengap, semua berembun, badan pliket dan keringet mengucur deras), jadi gak berani mengeluarkan kamera, ngeri liat lembabnya. Akhirnya kami hanya mengabadikan dengan menggunakan iPhone. Next winter kita akan datang lagi tentunya dengan foto-foto lengkap ;).
Silahkan dinikmati pemandangannya.
To Beby dan mas Dani makasih undangannya, akhirnya kita jadi tau Al-Kout Mall itu kayak apa ;).