Friday, October 30, 2015
Thursday, October 29, 2015
Happy Animation Day
Dari sejak pertama pakai Vine, hobi bikin animasi tradisional bisa kembali tersalurkan. Dan sampai sekarang, isinya cuma animasi, animasi dan animasi. Pokoknya jadi kembali antusias dengan animasi tradisional.
Sebuah kehormatan besar ketika hari ini Twitter merilis topik Animation Day di fitur Moments mereka, memasukkan dua Vine Papin di antara Vine dari Disney dan Pixar. *terharu*
Topik animasi ini diinisiasi Jack Dorsey di Twitternya:
Tampilan di Moments:
Animation Day
Catatan: Moments di Twitter adalah konten yang kontennya di-kurasi tim Twitter seperti layaknya berita.
Sebuah kehormatan besar ketika hari ini Twitter merilis topik Animation Day di fitur Moments mereka, memasukkan dua Vine Papin di antara Vine dari Disney dan Pixar. *terharu*
Topik animasi ini diinisiasi Jack Dorsey di Twitternya:
Always been a lot of great animation and stop motion on @vine. Check out this, and #animation in Vine app. https://t.co/Uu28bPOP7c
— Jack (@jack) October 28, 2015
Tampilan di Moments:
Animation Day
Catatan: Moments di Twitter adalah konten yang kontennya di-kurasi tim Twitter seperti layaknya berita.
Thursday, October 22, 2015
USA Today Edisi Hill Valley Terbit Hari Ini
Kemarin 21 Oktober, Marty McFly dan Doc Brown datang dari tahun 1985 di film Back To The Future 2. Di film itu, terlihat koran USA Today terbitan tanggal 22 Oktober 2015. Walau edisi itu fiktif dan hanya untuk kebutuhan prop film, USA Today tetap menerbitkan edisi tersebut hari ini sebagai bagian dari peringatan Back To The Future Day.
Saat mengantar krucil sekolah, Papin menyempatkan mengintip kios-kios koran di sekitar rumah. Agak susah nyarinya, mungkin karena ini koran nation wide. Akhirnya nemu nyempil di warung prapatan, dibawah tumpukan media cetak lainnya. Cuma satu pula. Kata yang jual, 1 store cuma jual 1 copy.
Baca-baca dalamnya, seru pisan euy. Artikel-artikel didominasi tema Back To The Future, atau paling tidak bersinggungan dengan 'future' dan prediksi perkembangan teknologi, budaya dan kesehatan - berhubungan dengan yayasan parkinson milik Michael J. Fox.

Dan tentunya ada wawancara-wawancara pemainnya, seperti Christopher 'Doc Brown' Lloyd.

Dan yang menarik, ada iklan film Jaws terbaru: Jaws 19 seperti yang 'diramalkan' di film Back To The Future 2.
Seumur hidup belum pernah baca koran bisa seasik ini, tiap artikel menarik untuk dibaca. Newspaper has never been this fun. Thank you, USA Today. You bring our childhood back to the past, 1985.
Thursday, October 15, 2015
Majalah Intisari

Bulan lalu, saat kami dibantu Pak James mengambil cargo di warehouse, dia membawakan majalah Intisari terbitan yang ada wawancara Papin dan keluarga. Beliau sangat antusias bercerita bagaimana majalah tersebut ada di tangannya. "Istri saya baru pulang dari Indonesia mbawain majalah Intisari.
Iseng saya buka-buka, lho kok ada Pak Pinot. Saya langsung bilang ke istri saya kalau saya kenal dengan orang yang ada di majalah ini."
Istrinya ngga percaya. Dipikirnya orang yang mirip.
"Pak Pinot dan keluarga baru saja pindah ke New York dan aku membantu mereka pindahan dari tempat tinggal sementara ke Astoria! Aku inget sama anaknya, Neo."
(kebetulan ada foto Papin dan Neo di artikel tersebut.)
Dia pun memberikan majalah Intisari itu kepada Papin. Merupakan pengalaman unik baginya, bisa bertemu langsung dengan seseorang yang diwawancara media.
Sunday, October 11, 2015
Menelusuri Graffiti Mr. Robot
Menonton serial Mr. Robot, kami jadi suka memperhatikan adegan yang mempertontonkan detail-detail kota New York, terutama graffiti-graffitinya. Salah satunya graffiti buatan seniman Joe Iurato yang berada di daerah downtown Manhattan (lokasi).

Lalu adegan episode final saat Elliot terbangun di dalam SUV, di sebuah parkiran yang berada di area Chelsea, Manhattan. Tepatnya di sudut jalan 17th street dan 6th ave (lokasi).

Nanti kalau nemu lagi, kami akan update :)
Wednesday, October 07, 2015
Bertemu Jerome Jarre!
Mumpung main ke kantor Twitter dan ketemu Jerome Jarre, sekalian bikin Vine awkward. Pura-puranya ngga tahu kalau direkam video, tapi malah jadi awkward
Bertamu ke Kantor Twitter

Setelah diundang dan tertunda bolak balik, akhirnya Papin menyempatkan diri mampir ke kantor Twitter. Kebetulan Teguh Wicaksono - dari Twitter Indonesia - lagi di sini, jadi sekalian ngobrol-ngobrol.

Kantor yang berlokasi di bilangan Chelsea, Manhattan ini sungguh nyaman. Seperti halnya kantor tech giant lainnya, kantor Twitter sangat fun dan kondusif banget untuk bekerja, atau berkarya. Kantinya sudah seperti food court di mall, karyawan dan tamu datang untuk makan. Free of charge.
d

Kelar ngobrol dengan Teguh dan makan siang, Papin dipanggil ke lantai atas, lantainya Vine HQ. Aduh kantornya keren banget. Seru!

Di sana sini terpajang gadget-gadget vintage, bikin ngiler pengen ikutan naruh barang-barang vintage kami.
Best of all, di sana ketemu Jerome Jarre, seleb Vine yang dulu mengajak Papin untuk kerja bareng bikin Vine untuk brand dan memberi tawaran kerja di New York sini. Tanpa dia, kami sekeluarga ngga akan mungkin bisa pindah ke sini.

Bahagia akhirnya bisa ketemu dia. Setelah bertukar nomor telepon, Papin langsung kirim pesan ke krucil "I met Jerome!!!" Kunjungan ke markas Twitter kali ini berasa seperti mengunjungi rumah kedua. Eh ketiga. Eh keempat. Ya pokoknya rumah juga lah.
Monday, October 05, 2015
Jajal Pesan Kopi di App
Hari ini setelah mengantar Arwen ke sekolah, dalam perjalanan pulang jalan kaki iseng mencoba layanan baru Starbucks: order kopi via app terus diambil di kedai kopi yang dipilih. Kebetulan ada satu kedai di perjalanan pulang.

Setelah order, 5 menit kemudian tiba di kedai. Kopi gue sudah tersedia dengan nama yang tertulis dengan benar "Wahyu". Ya iyalah, di-print dari app.

Lumayan praktis. Ngga perlu ngantri yang kebetulan pagi ini panjang banget antriannya. Mungkin sudah masuk musim gugur, semua pada kedingingan.

Setelah order, 5 menit kemudian tiba di kedai. Kopi gue sudah tersedia dengan nama yang tertulis dengan benar "Wahyu". Ya iyalah, di-print dari app.

Lumayan praktis. Ngga perlu ngantri yang kebetulan pagi ini panjang banget antriannya. Mungkin sudah masuk musim gugur, semua pada kedingingan.
Friday, September 25, 2015
Kardus-kardus Pindahan Dari Kuwait Sudah Tiba!
Dapat kabar kalau kardus-kardus pindahan dari Kuwait sudah sampai di sini. Setelah beres urusan administrasi dan custom, kami diharuskan mengambil sendiri 16 kardus tersebut di sebuah gudang di New Jersey.
Mengambil 16 kardus pindahan.
Di sebuah gudang.
Di New Jersey.
Definitely a new adventure.

Seumur hidup di sini baru 2 kali ke New Jersey. Sekali cuma lewat saat menjajal Zipcar keluyuran ke luar kota, lalu kedua kalinya saat ke rumah teman di Hoboken. Dan ini pertama kalinya naik kereta api PATH (Port Authorization Trans-Hudson) yang nyebrang kali Hudson. Naik dari stasiun 34th Herald Square, penjagaan sangat ketat sehubungan dengan kunjungan Pope ke mari. Setelah tas digeledah oleh petugas, beli tiket MetroCard 2-trip card $5.
Mengambil stasiun terakhir Journal Square, perjalanan dari Manhattan memakan waktu 1/2 jam. Dari sana ngga nemu bis sesuai panduang Google Maps dan Transit app. Asli, ternyata transportasi publik di sini mbingungi. Beda dengan New York yang hari pertama saja udah bisa pede keluyuran berbekal panduan Google Maps thok. Putus asa karena waktu sudah mepet, akhirnya naik taksi yang mangkal dekat terminal. Dan ternyata pakai argo kuda, $25 untuk jarak cuma 5-6 km. Meh.

Sampai di kawasan pergudangan yang dimaksud, sudah ada Pak James dengan mobil van-nya, siap membantu mengantar dan mengangkat 16 kardus tersebut. Antrian clearance cukup panjang, suasananya seperti di pelabuhan atau pergudangan pada umumnya. Isinya kebanyakan kuli angkut yang berbahasa Spanyol, dengan sesekali berbahasa inggris untuk melontarkan sumpah serapah hahaha.

Satu persatu kotak-kotak kardus dari Kuwait ini masuk van Pak James, yang dicorat-coret vandals di rumahnya. Penampakannya jadi ghetto pisan :D
Setelah beres clearance form-nya, kami diperintahkan untuk ke pintu gudang dengan membawa kendaraan angkut. Sempat ketar-ketir takut van Pak James ngga muat. Kalau ngga muat, mesti nginepin kotak-kotak ini lagi dengan biaya yang ngga murah. Dan males aja balik lagi ke sini. Untungnya muat, malah ada space kosong. Tahu gitu bisa nambah 3-4 kardus lagi dari Kuwait *LHO??* :D

Sejam kemudian - setelah muter sana muter sini karena jalan dialihkan sehubungan kunjungan Pope - tiba di rumah. Kardus-kardus yang 12 bulan tidak pernah menghirup udara luar ini akhirnya dibuka satu persatu. Aroma apartemen Salmiya masih terbawa, membawa suasana nostalgia. Krucil tampak sangat excited saat mereka mulai nemu satu persatu barang bersejarah mereka dari Kuwait.
Video saat Pudsey bear masuk vacuum bag di Kuwait bulan September 2014 dan dibuka kembali setekah setahun kemudian di New York.
Alhamdulillah. Dengan tibanya kardus-kardus ini, sepenuhnya lengkap sudah proses pindahan kami dari Kuwait ke New York.
Mengambil 16 kardus pindahan.
Di sebuah gudang.
Di New Jersey.
Definitely a new adventure.

Seumur hidup di sini baru 2 kali ke New Jersey. Sekali cuma lewat saat menjajal Zipcar keluyuran ke luar kota, lalu kedua kalinya saat ke rumah teman di Hoboken. Dan ini pertama kalinya naik kereta api PATH (Port Authorization Trans-Hudson) yang nyebrang kali Hudson. Naik dari stasiun 34th Herald Square, penjagaan sangat ketat sehubungan dengan kunjungan Pope ke mari. Setelah tas digeledah oleh petugas, beli tiket MetroCard 2-trip card $5.
Mengambil stasiun terakhir Journal Square, perjalanan dari Manhattan memakan waktu 1/2 jam. Dari sana ngga nemu bis sesuai panduang Google Maps dan Transit app. Asli, ternyata transportasi publik di sini mbingungi. Beda dengan New York yang hari pertama saja udah bisa pede keluyuran berbekal panduan Google Maps thok. Putus asa karena waktu sudah mepet, akhirnya naik taksi yang mangkal dekat terminal. Dan ternyata pakai argo kuda, $25 untuk jarak cuma 5-6 km. Meh.

Sampai di kawasan pergudangan yang dimaksud, sudah ada Pak James dengan mobil van-nya, siap membantu mengantar dan mengangkat 16 kardus tersebut. Antrian clearance cukup panjang, suasananya seperti di pelabuhan atau pergudangan pada umumnya. Isinya kebanyakan kuli angkut yang berbahasa Spanyol, dengan sesekali berbahasa inggris untuk melontarkan sumpah serapah hahaha.

Satu persatu kotak-kotak kardus dari Kuwait ini masuk van Pak James, yang dicorat-coret vandals di rumahnya. Penampakannya jadi ghetto pisan :D
Setelah beres clearance form-nya, kami diperintahkan untuk ke pintu gudang dengan membawa kendaraan angkut. Sempat ketar-ketir takut van Pak James ngga muat. Kalau ngga muat, mesti nginepin kotak-kotak ini lagi dengan biaya yang ngga murah. Dan males aja balik lagi ke sini. Untungnya muat, malah ada space kosong. Tahu gitu bisa nambah 3-4 kardus lagi dari Kuwait *LHO??* :D

Sejam kemudian - setelah muter sana muter sini karena jalan dialihkan sehubungan kunjungan Pope - tiba di rumah. Kardus-kardus yang 12 bulan tidak pernah menghirup udara luar ini akhirnya dibuka satu persatu. Aroma apartemen Salmiya masih terbawa, membawa suasana nostalgia. Krucil tampak sangat excited saat mereka mulai nemu satu persatu barang bersejarah mereka dari Kuwait.
Alhamdulillah. Dengan tibanya kardus-kardus ini, sepenuhnya lengkap sudah proses pindahan kami dari Kuwait ke New York.
Wednesday, September 23, 2015
Pameran Seni Singapura

Hari ini ada pameran seni instalasi dari Singapura di taman Madison Square dekat kantor Papin. Sore, saat pulang kerja, janjian ketemuan sama krucil dan Mamin di taman tersebut untuk melihat-lihat eventnya.
Dari beberapa booth, favorit kami adalah booth yang mengajak pengunjung untuk turut corat-coret menggambar. Krucil excited banget di tempat itu dan ngga pergi-pergi. Yang menarik, kami masuk di Instagram seniman si pemilik booth, dengan foto Papin lagi nggendong Neo menggambar langit-langit booth :D
Sunday, September 20, 2015
Menggambar Di Mana Saja

Sudah menjadi kebiasaan kami jika bepergian selalu membawa peralatan gambar, sehingga anak-anak bisa menggambar kapan saja di mana saja, serta mengurangi ketergantungan pada gadget dan iPad mereka. Kegiatan menggambar di mana-mana ini sering menarik perhatian orang sekitar, seperti hari ini saat di kereta pulang.
Wednesday, September 16, 2015
Jadi Snapchat Artist di Salah Satu Event NYFW
Kota ini lagi heboh penghelatan fashion selama seminggu, NYFW. Papin kedapetan tugas jadi Snapchat artist dari agency. Setelah eksperimen menggambar di Snapchat selama sebulan, ternyata ada klien, COACH, yang suka dengan gambar-gambarnya dan diminta untuk menggambar di acara fashion mereka. Live, tanpa edit. Menggambar 10 snaps dengan waktu hanya 2 jam.

Rada ketar ketir ngebanyangin suasananya. Kebayang nggambar di sebuah event gede, oleh brand gede pula. Kebayang kalau ada masalah teknis, ngga bisa upload, gambarnya ngga sesuai harapan klien. Tapi langsung pede, karena yakin situasinya ngga jauh beda dengan pekerjaan news graphic saat ada breaking news - sempet kerja di news RCTI selama 7 tahun. Somehow agak kangen dengan pressure kerjaan seperti itu.

Sampai di lokasi langsung digeret ke backstage yang rusuh banget suasananya. Tempatnya kecil pula, setiap nggambar mesti siap kesikut atau kesenggol orang lewat wira wiri. Di tempat ini pula, Papin harus bikin 7 snap. Yeuk mareeee.
Bagai Coki Pelukis Cepat, Papin berhasil membuat 7 snap dan langsung upload setelah di-approve klien yang selalu ngintil di sebelah. Untung kliennya ngga bawel, paling cuma kasih input nama brand atau text yang mesti ditulis di caption.
Rebutan spot di tempat berdiri yang sungguh sempit
Berikutnya, Papin harus rebutan tempat bareng fotografer & videografer di media pit yang sangat sempit, untuk membuat 3 snap suasana di runway, dalam waktu hanya 15 menit!

Beruntung cuma pegang Samsung Galaxy Note, bukan kamera DSLR atau video yang harus diangkat tinggi-tinggi untuk dapat angle bagus. Tiga kali jepret, gambar, upload dan alhamdulillah lancar.
Selesai acara, klien langsung nyamperin dan berterima kasih sambil ketawa-ketawa "Are you okay?"
Sebuah pengalaman baru yang seru. Ngga nyangka, bekerja di kota ini bisa melakukan pekerjaan seunik ini. Sederhana tapi sekaligus kompleks. Semua gara-gara perkembangan social media.
Dan kali ini Snapchat yang sedang hot.

Rada ketar ketir ngebanyangin suasananya. Kebayang nggambar di sebuah event gede, oleh brand gede pula. Kebayang kalau ada masalah teknis, ngga bisa upload, gambarnya ngga sesuai harapan klien. Tapi langsung pede, karena yakin situasinya ngga jauh beda dengan pekerjaan news graphic saat ada breaking news - sempet kerja di news RCTI selama 7 tahun. Somehow agak kangen dengan pressure kerjaan seperti itu.

Sampai di lokasi langsung digeret ke backstage yang rusuh banget suasananya. Tempatnya kecil pula, setiap nggambar mesti siap kesikut atau kesenggol orang lewat wira wiri. Di tempat ini pula, Papin harus bikin 7 snap. Yeuk mareeee.
Bagai Coki Pelukis Cepat, Papin berhasil membuat 7 snap dan langsung upload setelah di-approve klien yang selalu ngintil di sebelah. Untung kliennya ngga bawel, paling cuma kasih input nama brand atau text yang mesti ditulis di caption.
Rebutan spot di tempat berdiri yang sungguh sempit
Berikutnya, Papin harus rebutan tempat bareng fotografer & videografer di media pit yang sangat sempit, untuk membuat 3 snap suasana di runway, dalam waktu hanya 15 menit!

Beruntung cuma pegang Samsung Galaxy Note, bukan kamera DSLR atau video yang harus diangkat tinggi-tinggi untuk dapat angle bagus. Tiga kali jepret, gambar, upload dan alhamdulillah lancar.
Selesai acara, klien langsung nyamperin dan berterima kasih sambil ketawa-ketawa "Are you okay?"
Sebuah pengalaman baru yang seru. Ngga nyangka, bekerja di kota ini bisa melakukan pekerjaan seunik ini. Sederhana tapi sekaligus kompleks. Semua gara-gara perkembangan social media.
Dan kali ini Snapchat yang sedang hot.
Add ‘CoachNYC’ on Snapchat & follow along today as @Pinot shares an artist’s take on #CoachSpring2016 at #NYFW pic.twitter.com/CE1nfUDqlB
— Coach, Inc. (@Coach) September 15, 2015
Asik. Seru. Sudah pasti mau kalau ada kerjaan begini lagi. Memang bener mirip dengan kerjaan breaking news: dalam hitungan detik dan menit harus tayang. Selesai tidak selesai kumpulkan!
Monday, August 31, 2015
Mengintip US Open

Hari ini Papin dapat kesempatan bareng Mamin & krucil bertandang ke penghelatan tenis US Open, memenuhi undangan Twitter NY yang meminta Papin untuk membuat 1-2 Vine merekam suasana di lokasi.

Lokasi pertandingan ada di Flushing, Queens, 2 kali naik subway dari rumah. Turun di Mets station, suasananya sudah sangat ramai banyak orang. Baru kami sadari, event seperti ini memang menarik minat banyak orang dari seluruh New York bahkan dunia.
Jelang gerbang masuk, semua barang bawaan diperiksa dan tidak diperkenankan membawa backpack besar atau koper. Semua barang dimasukkan dalam kantong plastik transparan. Dilarang juga membawa tripod atau selfie stick. Backpack dan barang yang dilarang dibawa masuk disimpan dalam locker.
Barisan antrian sangat panjang dan ramai menuju gerbang masuk. Untungnya Papin bisa terhubung dengan tim Twitter yang datang membawakan tiket masuk dan credential ID. Kami pun bisa mbablas masuk tanpa harus berjemur lama-lama di antrian gerbang.
Kami menonton di Arthur Ashe Stadium, dapat posisi di suite room yang dilengkapi makanan/minuman dan ruangan ber-AC! Yesss.. panas-panas begini memang enaknya ngendon di tempat adem. Terima kasih, Twitter! Di terasnya kami bisa menikmati pertandingan. Walau tidak sampai acara pembukaan, kami sempat menonton pertandingan Venus Williams vs Monica Puig dan Novac Djokovic vs Joao Souza. Kami bukan penggemar atau pemerhati tenis, tapi sangat menikmati pertandingan mereka. Seru! Apalagi tim dari Twitter beberapa kali memberi latar belakang sejarah pemainnya, lengkap dengan bumbu drama persaingan antar pemain.
Papin sempat membuat 2 Vine di hari itu (1 on the spot, 1 diselesaikan di rumah). Setelah pamitan dengan tim Twitter, kami pun pulang, kegerahan pengen cepet-cepet mandi!
Vine Andy Murray nge-serve saat latihan
Vine timelapse nggambar suasana stadion
Thursday, August 20, 2015
Home Automation 11 Tahun Kemudian
11 tahun silam kami lagi getol-getolnya bereksperimen dengan home automation. Dari berbagai merk & jenis, dipilih modul X10 - yang menggunakan jalur listrik rumah sebagai network-nya. Controllernya pakai PowerBook lawas 1400cs dan modul Smarthome. Dengan konfigurasi begitu, bisa mengontrol lampu rumah, mengatur jadwal kapan lampu mati dan menyala dan otomatisasi ketika rumah kosong dan ada yang mencurigakan di halaman belakang - maklum, dulu belakang rumah adalah tanah kosong dan gampang banget dipakai untuk akses merampok rumah - langsung menyalakan TV atau kaset suara anjing menggonggong, seolah ada orang di rumah.
Eksperimen berhenti setelah mengalami kendala untuk memberi fungsi tambahan seperti mengontrol dari jarak jauh semua device lewat internet.
11 tahun kemudian, eksperimen dilanjutkan. Kali ini sudah banyak kemudahan teknologi dan banyaknya pilihan merk. Bahkan semua device bisa tersambung dalam satu network dan layanan. Terima kasih, internet & wifi.
Dipilihlah modul-modul littleBits. LittleBits bukan khusus untuk home automation, tapi memberi kemudahan jika ingin membangun project semacam itu. Apalagi ada paket khusus home automation, dengan modul-modul yang siap pakai untuk berbagai kebutuhan.

Dari modul-modul ini, yang sudah bekerja dengan baik adalah pembuka pintu kalau ada tukang kirim barang pencet bel dan pengantur AC jarak jauh.

Kedua project ini menggunakan modul andalan: cloudBits - modul penghubung dari/ke internet. Dengan modul cloudBits ini bisa berkomunikasi via email, SMS, notifikasi iPhone bahkan terhubung ke layanan IFTTT.com.

Ada tukang pos dateng, dia pencet bel, lalu kasih notifikasi ke iPhone, cek security cam dan membukakan pintu supaya dia menaruh barang di dalam.
— Pinot (@pinot) May 10, 2015
Nyalain remote AC dari internet. Jadi, 15 menit sebelum pulang, rumah sudah sejuk tanpa harus menyalakan AC seharian.Belum lagi brand ternama seperti Philips mengeluarkan produk lampu otomatis Philips HUE, lalu Nest thermostat dan Dropcam camera. Semua device bisa saling ngobrol dan koordinasi satu sama lain.
Sebagai bonus, littleBits membuat anak-anak jadi senang membuat project-project elektronika. Seperti misalnya membuat robot-robotan yang dikontrol oleh gerakan, suara atau cahaya.
LittleBits project: Don't Touch Me! - the mini rover always run when we try to touch him. pic.twitter.com/GdA8jf6Ic8
— Pinot (@pinot) April 28, 2015
Tidak menyangka, dalam 11 tahun teknologi sudah membawa kita sejauh ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)


