Our previous journey: Kuwait

Tuesday, March 31, 2015

First Day At School 2015

Hari ini sejak 8 bulan ngga sekolah, Arwen & Leia kembali bersekolah. Dan yang istimewa, ini hari pertama Neo berkenalan dengan sekolah. Kebetulan mereka satu sekolah dan jaraknya hanya 400-500 meter dari rumah kami.



Walau pertama kalinya sekolah, Neo sangat bersemangat dan tidak ada drama seperti yang terjadi pada kakak-kakaknya dahulu. Mungkin karena sudah melihat kakak-kakaknya duluan sekolah, Neo jadi terinspirasi pengen ikutan.

Jadi teringat ketika Arwen & Leia pertama sekolah di Kuwait. Ini ekspresi tegang Arwen saat pertama kali berangkat sekolah tahun 2009. Sempat menangis ditinggal pergi papin & mamin di kelas.

 

Dan ini Leia ketika pertama kali ke sekolah tahun 2011, bersama Arwen bareng ke sekolah. Wajahnya juga tegang, tapi jauh lebih bersemangat dan penasaran :D

 



There's always first time in every thing! And it always exciting!

Saturday, March 28, 2015

Sketching People Of New York

Sebagai pendatang baru di kota ini, sudah selayaknya kami harus 'bersilaturahmi' dengan banyak orang. Kami, orang asing, mencoba bergaul dengan sesama stranger - yang tidak kami kenal - dengan cara menggambar mereka.



Radiant adalah waitress di restoran IHOP yang berlokasi di 14th street. Beliau sangat ramah kepada kami, banyak tersenyum (sesuai namanya!) dan mencoba ngobrol dengan krucil. Kami pun memberanikan diri untuk bertanya padanya apakah bersedia kami foto dan gambar wajahnya. Dia pun bersedia dan bersemangat.
"Ooww I look pretty in your picture!"



Olivia bekerja di New York City Bagel & Coffee House, Astoria. Dia awalnya agak ragu-ragu, tapi setelah memandang mamin, Arwen, Leia & Neo, dia merasa kami bukan orang yang pantas dicurigai hahaha!



Setelah menggambar Radiant & Olivia, kok ngga ada cowoknya. Lalu kami pun mencoba ngobrol dengan Christopher di Sugar Couture, Brooklyn. Yang lucu, saat ditunjukkan hasil gambar kami, dia memberi koreksi. "That's not bad. It's just the nose, seems to big. And the left eye need to move a bit." Whoa, gambar gue dikoreksi hahahaha. Keren! Sering dengar orang-orang muda Brooklyn yang bekerja di bidang kreatif tapi nyambi jadi waiter di cafe atau bar. Jangan-jangan Chris ini sebenarnya kerja di advertising atau industri kreatif. Kami pun beberapa kali mencoba mengoreksi sampai dia puas. Bok, berasa punya klien *ngakak*



Si mbak ini bekerja di restoran chinese food samping apartemen tempat kita tinggal di Brooklyn. Seneng kalau lihat kami datang, krucil selalu dikasih fortune cookie gratis. Saat ditanya namanya dia bilang:
"Ting A."
Terus ditulis 'Ting A' dia koreksi "No no. Ti-Ng-A."
Ditulis 'Ti Ng A' dia masih koreksi. Akhirnya kami kasih pensil untuk dia tuliskan namanya.
Ternyata namanya 'Tin A'.
Ngga bisa ngomong 'N' ya mbak.

Habis ini siapa ya? Celingukan siapa lagi yang bisa digambar.

Tuesday, March 24, 2015

Pilih-pilih dan Daftar Sekolah (2)

Tahap berikutnya dari pendaftaran sekolah adalah pemeriksaan kesehatan anak-anak. Karena kami tinggal di Astoria, Queens, klinik rujukannya adalah Pediatric Clinic di NY Department of Health and Mental Hygiene di Junction Blvd., Jackson Heights. Klinik anak terletak di lantai 3 gedung ini. Begitu keluar lift langsung disambut staf klinik yang sangat ramah. Sebelum memulai pemeriksaan kami harus mengisi form lagi untuk pembuatan kartu berobat. Setelah mengisi aplikasi dan mendapatkan kartu, kami menunggu giliran pemeriksaan.

Sebelum masuk ke ruang periksa dokter, anak-anak masuk ke ruangan suster untuk diperiksa tingginya, berat badan, tekanan darah, pendengaran dan penglihatannya. Kemudian masuk ruang dokter, anak-anak dicek secara fisik. Mereka disuruh lepas baju untuk dilihat semuanya, apakah struktur tulangnya bermasalah atau tidak, apakah ada penyakit kelamin atau tidak. Setelah itu dokter mengajukan puluhan pertanyaan tentang kesejahteraan anak. Dari urusan cat tembok rumah yang gak boleh sembarangan, naik sepeda musti pake helm dan kneepad, makan musti bergizi, gak boleh banyak minum manis, sampai ke tugas-tugas rumah tangga apa saja yang sudah bisa dilakukan anak-anak.

Lalu dokter juga memeriksa kelengkapan imunisasi. Kalau belum lengkap dan ada yang perlu diulang, anak-anak divaksinasi saat itu juga. Saat itu, Arwen dapat 2 injeksi, Leia 3 dan Neo 3 injeksi. Setelah semuanya beres, anak-anak musti tes darah. Sehabis melalui rangkaian pemeriksaan ini, hasilnya bisa diambil 1 minggu kemudian dan dikembalikan ke sekolah.

Monday, March 23, 2015

Pilih-pilih dan Daftar Sekolah (1)

Setelah urusan pindah-pindahan rumah selesai, PR berikutnya adalah daftar sekolah. Urusan rumah dan sekolah ini sebenernya saling berkaitan. Kalau kita gak tinggal di daerah sekolah tersebut (Public School), kita gak bisa mendaftar di sekolah tersebut.

Cerita dulu dikit yah, soal latar belakang pemilihan sekolah. Jadi pada awalnya yang kita lakukan adalah browsing Public School/PS secara online. Kami kumpulkan semua PS-Elementary School yang punya rating dan reputasi bagus. Ini sudah kami lakukan sejak masih di Kuwait dan Indonesia. Kami mengumpulkan sekolah-sekolah negeri bagus dari seluruh borough yang ada di New York City.

Singkatnya, setelah sampe NYC, kami sudah bisa meraba-raba kira-kira daerah mana yang bakal jadi tempat tinggal nanti. Akhirnya list pilihan sekolah diperkecil dan seleksi lagi sesuai dengan daerah yang ingin kami tinggali. Pilihan kami jatuh pada Brooklyn dan Astoria. Setelah berhitung, menimbang, survey daerah mana yang tenang, lingkungannya family friendly deket dengan fasilitas umum untuk anak-anak, pilihan kami jatuh pada Astoria. Mulai deh bergerilya cari-cari apartemen lewat TRULIA, Naked Apartments, Zillow dan sejenisnya. 3 yang kami sebutkan adalah situs-situs layanan mencari rumah/apartment secara online yang kami rekomendasikan dan biasanya via agen-agen/broker. Broker akan mendapat fee umumnya biaya 1 bulan sewa apartemen kita. Favorit kami adalah TRULIA. Ada aplikasi yang bisa kami download, kemudian kita bisa tau sekolah yang termasuk zone di alamat yang kita tuju. Zoned School artinya sekolah hanya diperuntukkan untuk anak-anak yang berdomisili di daerah yang satu zone dengan sekolah tersebut. Informasi zone dan distrik ini sangat mudah dicari secara online. Setelah mengantongi informasi tentang zone dan distrik, mulailah kami mencari rumah.

Saat mencari rumah, hampir semua daerah-daerah dan alamat yang zoned ke sekolah incaran kami, PS 122 Mamie Fay, kami hubungi. Sampai-sampai inbox e-mail Papin dan Mamin penuh dengan e-mail-e-mail balasan dari broker. Ada yang responsnya cepat, ada yang tidak menjawab, ada yang ternyata rumahnya udah laku/sudah disewa tapi masih dipasang online, dll.

Mungkin memang rejeki anak-anak, kami menemukan apartemen yang hanya berjarak 5 menit dari sekolah incaran. Begitu urusan surat-surat apartemen selesai, kami langsung datang ke sekolah dengan membawa bukti-bukti yang diminta sekolah : bukti alamat rumah (yang ternyata ditolak karena kata pihak sekolah surat kontrak macam itu sudah banyak yang mendownload dari internet dan digunakan untuk manipulasi alamat), tagihan listrik/gas dari ConEd (walopun belum ada tagihannya, tapi untung kami sudah mendaftar rekening online, jadi terlihat bahwa kami memang tinggal di apartemen itu) dan slip gaji Papin yang beralamatkan di tempat kami. Surat-surat standar lain yang kami siapkan adalah fotokopi paspor, akte kelahiran, bukti kelengkapan imunisasi dan surat transfer dari sekolah lama.

Saat datang ke sekolah, kami harus meninggalkan identitas di meja satpam dan mencatat alamat tinggal. Kemudian kami langsung menuju kantor administrasi sekolah. Di kantor, kami disambut dengan sangat ramah dan dengan sabar petugas admin membantu dan melayani kami. Lalu kami diberi segepok form yang musti diisi untuk masing-masing anak. Form -form ini kami bawa pulang dan diisi di rumah. Isinya mulai dari data pribadi anak dan keluarga, data penghasilan kepala keluarga (ini akan digunakan untuk memutuskan apakah si anak akan dapat free lunch atau bayar setengah atau bayar full setiap bulannya), data-data kesehatan dan data asuransi.

Keesokan harinya kami datang lagi ke sekolah untuk mengembalikan form-form tersebut. Setelah selesai, kami diberi form kesehatan yang harus diisi oleh Departemen Kesehatan. Yang artinya, anak-anak harus dicek secara fisik dan mental di klinik-klinik anak yang sudah ditunjuk oleh Dept. Kesehatan. Dan di klinik ini pula anak-anak akan dilengkapi imunisasinya jika ada yang belum didapat atau musti diulang.

Cerita soal pemeriksaan kesehatan, akan kami post di postingan berikutnya.

Sunday, March 22, 2015

Hari Kedua Musim Semi

Setelah kemarin turun salju dengan lebatnya, hari ini matahari bersinar mencairkan salju-salju. Finally!

Saturday, March 21, 2015

Mari Pindahan Bersama Pak James



Setelah beberapa hari menyicil barang pindahan ke rumah baru di Astoria, hari ini kami janjian dengan Pak James yang memiliki jasa transportasi.



Lumayan, 8 koper plus pernak pernik bisa sekali angkut dengan minivan.
Pak James ini sudah di New York dari awal 2000an dengan visa pelajar dan berlanjut hingga kini. Beliau menyediakan jasa moving, transportasi dari IKEA atau Home Depot, penjemputan pengantaran ke bandara hingga jasa tur kota New York selama 10 jam dengan tarif US$300.

Friday, March 20, 2015

Hari Pertama Musim Semi



Hari ini adalah hari pertama dimulainya musim semi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, tidak ada matahari, mendung dan turun salju dengan deras. Untung saat salju semakin deras, kami sudah tiba di apartemen baru.









Salju diramalkan turun sampai besok pagi. Baiklah, mari selimutan lagi.

Thursday, March 19, 2015

Mulai Pindah Ke Astoria



Setelah serah terima kunci, akhirnya kami mulai kukut-kukut barang-barang dari Brooklyn ke Queens dengan menggunakan subway L ke N.



Sesekali mampir dulu sambil beli hot choco atau kopi.

 

Besoknya lanjut lagi dengan koper-koper yang lebih gede.



Aktivitas mendorong troli kecil begini mengingatkan kami pada saat di Kuwait, pindahan dari tempat lama ke baru yang berjarak beberapa blok.

Thursday, March 12, 2015

Krucil Mengisi Suara Trailer Avengers : Age of Ultron



Saat di Mashable HQ Jum'at malam, krucil digiring produser Mashable untuk mengisi suara untuk trailer Avengers yang baru: Age of Ultron. Neo kebagian mengisi suara untuk Ultron dan Nick Fury, Leia mengisi suara untuk Black Widow dan Captain America sementara Arwen untuk Tony Stark dan Thor.

Ini behind the scene saat mereka mengisi suara di studio Mashable.


Link Mashable.

Tuesday, March 10, 2015

Berkunjung ke Grand Central Terminal.

Kami lagi sering membaca-baca Fun Fact List About New York City, tempat-tempat di kota ini yang memiliki hal menarik tersembunyi dan tidak banyak orang yang tahu. Grand Central Terminal adalah salah satunya, memiliki banyak hal menarik dan bersejarah. Grand Central Terminal ini sudah direstorasi dan dicat ulang, terutama bagian langit-langitnya yang sebelumnya kusam dan jorok terkena asap rokok pengunjung stasiun. Tim restorasi menyisakan satu bata yang dibiarkan apa adanya untuk menggambarkan betapa kotornya langit-langit Grand Central sebelum dibersihkan (sumber).



Arwen "Look look! The nicotine & tar brick!" menunjuk ke kaki rasi bintang Cancer (langit-langit stasiun ini dihiasi gambar rasi bintang) tepat di ujung.



Sekalian bikin video klip, pakai teknik timelapse buat menggambarkan betapa sibukanya tempat ini, tempat lalu lalang orang dari berbagai penjuru ke segala jurusan.


Wednesday, March 04, 2015

Facebook Page

We're just opened a Facebook page: Neverland Journey in Drawing Pad. Gathering all our drawing in our journey from Jakarta, Kuwait, London and New York City, with pen, pencils, sketches, watercolor paintings, by Papin, Mamin, Arwen, Leia & Neo.



Here's the link.
And we're truly appreciate the LIKES :)

Tuesday, February 24, 2015

Bryant Park

bryantpark1

Park adalah satu tempat yang sering direkomendasikan teman-teman yang tinggal di NY atau pernah ke NY sebagai tempat yang harus dikunjungi. Tapi lagi winter gini, agak susah ya menikmati main di taman. Selain dingin, juga banyak salju licin, gak nyaman buat bermain.

bryantpark5

Satu taman yang cukup terkenal dan wajib dikunjungi adalah Bryant Park. Terletak di antara Fifth & Sixth Avenues dan 40th & 42nd streets di Midtown Manhattan, persis di sebelah New York Public Library. Berhubung lagi winter, tamannya ditutup digantikan dengan ice skating rink dan cafe non permanen.

bryantpark2

Leia dan Neo seneng banget lari-larian di atas taman yang ditutupi karpet. Mengejar burung-burung merpati yang banyak beterbangan mencari hangatnya matahari.

bryantpark3

Bryant Park yang pasti akan kami kunjungi lagi nanti di saat spring dan summer. Buat ngangetin badan sambil baca-baca, bisa mampir ke New York Public Library atau mampir ke Kinokuniya di seberang taman.

bryantpark4

Papin sekalian bikin Vine pemain ice skating professional yang lagi rehearsal di sana.
(UPDATE: ternyata pasangan pemain ini adalah atlet Winter Olympics sohor dan berkomentar tentag Vine-nya (link & link)).



Laundromat



Satu hal yang bakal jadi kebiasaan di sini adalah mencuci baju di laundromat. Karena beberapa apartemen tidak mempunyai fasilitas washer & dryer. Jadi laundromat memang merupakan pilihan yang sangat populer di sini. Kebetulan apartemen sementara kami tidak mempunyai fasilitas cuci mencuci ini. Maka dari itu setelah cucian cukup menggunung, kami memutuskan untuk pertama kalinya pergi ke laundromat.



Yang pertama kali harus dilakukan adalah menukar koin. Karena mesin cuci dioperasikan dengan menggunakan koin-koin quarter dollar. Untuk sekali mencuci selama 30 menit, kami membutuhkan 2.5 dollar.



Sebelum mengoperasikan mesin cuci, kami memasukkan baju-baju ke dalam mesin. Setelah itu memasukkan sabun cuci dan pewangi pakaian yang kami bawa sendiri ke dalam container di atas mesin cuci. Sehabis itu baru memasukkan koin dan memencet tombol start. 30 menit bisa ditunggu, bisa juga ditinggal untuk kemudian diambil. Kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar tempat cuci, mencari coffee shop dan es krim buat krucils.



30 menit tak terasa berlalu, kami kembali ke laundromat dan cucian sudah siap dipindahkan ke mesin pengering. Masukkan lagi koin-koin quarter sebanyak 1 dollar, dryer beroperasi selama 25 menit dengan tingkat panas medium.



Sambil menunggu cucian kering, kami melakukan grocery shopping dulu, karena laundromat-nya agak kecil tidak ada tempat menunggu, jadi agak repot kalo harus serombongan sirkus menunggu di dalam. Di New York, konon laundromat dikuasai oleh bangsa Korea. Benar saja, ternyata tempat cuci di dekat apartemen kami ini dimiliki oleh orang Korea. Kebetulan bapaknya ada di situ pas kita lagi nyuci. Dia sempet nebak apakah kita dari Korea juga. Gak di Kuwait, gak di NY....tetep aja disangka Korea :D.

Sunday, February 22, 2015

Yard Sale

Satu hal yang kami suka adalah berburu yard sale dan thrifting. Sore itu, saat sedang menikmati matahari yang lagi lumayan jarang nongol, kami menemukan yard sale di sekitar apartemen.



Sasarannya adalah old dan vintage furniture. Lumayan, jalan-jalan sore dapet coffee table seharga 5 dollar dan topi cantik seharga 3 dollar.

Thursday, February 19, 2015

Artists & Craftman Supply



Yang menyenangkan dari tinggal di Williamsburg adalah adanya toko Artists & Craftman Supply ini. Lokasinya di Metropolitan Ave, cuman 10 menit jalan kaki dari apartemen.



Mau cari peralatan gambar dan lukis ada. Cat-cat kayu sampai kayu-kayu lempengan juga ada. Benang-benang wool lumayan lah, walopun masih kurang lengkap koleksinya. Kuas, wax stamp, kebutuhan origami, dll hampir semuanya ada di toko ini. Surga rasanya. Senang berlama-lama di toko ini. Yang awalnya cuman mau beli gunting, pulang-pulang bisa belanja sekantong gede :D.

Nintendo World & Rockefeller Center



Satu hal yang diidam-idamkan Arwen, Leia, Neo adalah berkunjung ke Nintendo World di dekat Rockefeller Center.

Hari ini, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah Rockefeller Plaza. Mereka happy banget bisa mendatangi Pokemon Center NY.



Setelah puas liat-liat *belum sih kayaknya*, kami melanjutkan jalan ke arah ice skating ring di Rockefeller Center. Gak main ice skating cuman foto-foto aja di sekitar situ. Dingin banget abisnyaaaaa!!!



Sebelum pergi, dengan menahan dingin Papin menyempatkan bikin Vine: merekam time-lapse proses menggambar patung Prometheus di Rockefeller Plaza yang sohor itu.

Enjoying the First Snow

This is the first for many many things in the new adventure.





Friday, February 13, 2015

Ngidam Shawarma

Buat kami, home itu sekarang ada 2, Indonesia dan Kuwait. Gak bisa dipungkiri 7 tahun di Kuwait membuat lidah dan hati kami lekat dengan hidup di sana. Salah satu hal yang sering membuat kami rindu bukan cuman makanan Indonesia, tapi juga makanan Arab. Shawarma dan kebab cukup mudah ditemui di sini. Tapi ya tentunya gak seotentik di jazirah Arab.

princestreet2

Pas lagi jalan-jalan ke Prince street, untuk pertama kalinya nemuin food truck yang jual makanan Arab. Penjualnya seorang bapak India yang rupanya tidak terlalu paham dengan nama-nama makanan Arab yang kita sebutin. Ya iyalah, gak bisa berharap banyak. Paling juga mereka taunya shawarma, kebab dan falafel.

princestreet3

Ternyata rasanya jauh beda dari yang kita harapin :D

Wednesday, February 11, 2015

Pengalaman pertama naik taksi



Hari ini kami memutuskan untuk mencoba naik taksi. Karena rute yang musti ditempuh dari Target Faltbush Ave Brooklyn menuju apartemen di Williamsburg, agak nanggung. Kalo mau naik subway, musti jalan agak jauh dulu. Kasian krucils udah capek. Mau naik bis juga udah males mikirin rutenya. Pokoknya judulnya udah capek, males mikir karena sebeumnya kita abis keliling-keliling di Fulton Street.



















Jauh-jauh sampai sini, nemunya supir bengali lagi. Namanya Bakar Khan, mungkin masih sepupuan sama Jamal (mentang-mentang sesama bengali!) tapi bahasa inggrisnya lebih manusiawi. Yaiyalah, tinggal 15 tahun di New York masa ngga ada improvisasi bahasa?

Pas masuk taksinya, Papin pikir dia cukup tech-savvy dengan GPS device di kanan dan iPhone di kiri. Sepertinya sudah memanfaatkan teknologi lalu lintas macam Google Maps atau Waze. Ternyata dia terheran-heran saat Papin bukan Google Maps dan memberi tahu dia kalau jalanan macet sepanjang 7km dan makan waktu tempuh 14 menit sampai tujuan.
"What is that?" tanyanya.

Akhirnya Papin jelaskan panjang lebar dan bantu install Google Maps di iPhone dia. Dari situ ngobrol-ngobrol, anaknya dua, satu cowok ngga betah tinggal di New York, menikah dan kembali ke Bangladesh. "This country is not for muslim, you know. I'm here only for money. Nothing else."

Ternyata dia ngga mudeng jalan, malah Papin yang ngarahin. "You look very familiar with this street. Have you been here before?"
Papin jawab "No, this is the first time. But thanks to technology, I know the better route."
Dianya nurut Papin suruh belok-belok.



















Lalu, muncullah kekhasan hindi worker yang merantau, nanya-nanya tempat kerja, jadi apa, berapa lama terus mulai menasehati segala macam. Kami ingat dulu saat pertama kali kenal supir Pakistani, Srilankan dan Bangladeshi saat di Kuwait, pasti kepo banget dengan latar belakang pekerjaan. Dan pasti buntut-buntutnya nanya gaji. Dan belum sampai Bakar melontarkan pertanyaan itu, taxi kami tiba di tujuan :D.