Our previous journey: Kuwait

Tuesday, September 11, 2007

Selamat Ulang Tahun, Bu


Lagi menikmati masa-masa jadi eyang (saat Leia masih piyik)

Walau berjauhan tempat, justru membuat jarak rasa semakin dekat. Semoga kita semua diberi tambahan dan kelengkapan bekal dalam menghadapi kehidupan ini. Memberi kesadaran baru, bahwa sebuah jarak ruang dan waktu tidak berarti apa-apa untuk sebuah ikatan bathin dan rasa yang demikian kuat. Terima kasih sudah memberikan segalanya kepada kami, hingga kami menjadi seperti sekarang, termasuk Papin yang sekarang melanglang buana jauh dari kehangatan rumah.


Papin dari kecil sudah tertarik bidang media massa :P

Selamat ulang tahun, bu. Selamat menikmati segala nikmat dan pemberian yang terbaik dari Allah di usia yang sekarang. Amin

Malam Panjang di Kuwait


Sejak awal, kami memang tidak berniat datang ke acara seremonial Al Watan TV. Pertama, kami tidak membawa perlengkapan pesta (jas, dasi, sepatu cantik dkk). Kedua, jelas kami tidak akan merasa nyaman dengan suasana dan lingkungan pesta di negeri ini. Ketiga, mending pulang tidur - Hell yeah! We need lotsa rest! Dan saat menjelang malam, kami sudah siap memanggil taxi untuk ke Sultan - membeli berbagai macam kebutuhan bulanan - dan pulang. Namun, tiba-tiba Sami menelepon kami dan menanyakan keberadaan kami. "Where are you, traitors? Leaving without permission?" Ternyata kami berempat diharuskan hadir di acara tersebut. Adalah kehormatan besar jika seseorang diundang pada acara tersebut, tidak semua orang bisa sembarangan datang, begitu kata Sami. Oke dddeeeee....

Walhasil, kami harus pulang dulu mengganti busana ala kadarnya biar terlihat (agak) rapi. Untung Papin bawa batik dan sepatu cantik jadi masih bisa tampil ganteng *uhuiy*. Dalam kondisi setengah mengantuk, kami pun dijemput 2 rekan kami, Bably & Ghesan. Yah, paling tidak kami bisa mengisi perut yang sudah mulai teriak minta diisi.

Sampai di sana, dengan semangat demi-makan-enak kami mencari tempat duduk di antara tetamu. Cukup kikuk, karena satu-satunya wajah Asia yang duduk di meja makan malam hanya kami, sementara wajah Asia lainnya adalah pelayan pesta. Semua mata tertuju kepada kami. Yeah! 'Dare to be different' ceritanya! Yang penting makan!

Ternyata, menu makan malam (main course) sudah selesai. Yang ada tinggal dessert es krim & puding. Berarti tidak ada makanan beneran! Kami berempat pandang-pandangan dengan wajah kaget dan prihatin. We're gonna stuck in this party with our belly empty! What to do????!!! Bahkan hiburan musik di panggung pun tidak membantu kami bisa 'nyaman' berlama-lama di sini.

Lihatlah tampang Eman yang kelaparan dan pasrah


Setelah terjebak pasrah selama hampir 2 jam dan perut mulai sakit, akhirnya kami bisa meninggalkan tempat bersama rekan-rekan kami. Bersama Bably, kami pun menuju Burger King di kawasan Al Fanar untuk mengisi perut dan bisa belanja di Sultan setelahnya. 

Namun dasar apes, entah karena apa Sultan tutup. Rencana beli rice-cooker dan pernak perniknya batal sudah. Kami pun dengan gontai memanggil taxi untuk segera menuntaskan malam panjang ini dengan tidur.

More photos & videos in here

Monday, September 10, 2007

Al Watan TV Goes On Air

Finally. Setelah tertunda-tunda karena berbagai masalah administration delay, technical problem etc etc etc, akhirnya Al Watan TV on air hari Minggu tanggal 9 September 2007. Belum sepenuhnya on air di hari itu, tapi lebih sekedar ceremonial dan ditayangkan live dari pagi hingga malam. Gradually on air sepenuhnya dari tanggal 11 hingga akhirnya 2 hari sesudahnya - saat masuk Ramadhan.
Silakan tonton beberapa rekaman video tayangan Al Watan TV yang diambil dari layar TV. Maaf, belum sempat convert real video material-nya. Too busy to convert the whole things.

Promo & salah satu versi Station ID

Promo Ramadhan



Newsroom with lots of iMacs :)



News & Station ID


Promo program kuiz Ramadhan. Isinya becandaan juga seperti di Indonesia

Saturday, September 08, 2007

9/11



Papin dkk lagi sibuk ngga ketulungan menjelang launch on air Al Watan TV tanggal 9 September besok. Dan (katanya) fully operational tanggal 11-an. Berangkat jam 11 pagi pulang jam 1 pagi, malah kadang-kadang lebih. Makin dekat hari launch, makin chaos, makin seru dan makin melelahkan. Semua orang digeber untuk membereskan semua printal printil. Even Bader, our boss, tetep di kantor sampai larut malam. Suasana kantor sudah seperti kegiatan mahasiswa di kampus menjelang deadline pengumpulan tugas akhir semesteran. Pasang musik keras-keras, mug kopi berserakan, asap rokok di mana-mana, orang-orang teriak adu mulut dan becanda jadi satu. Stres, panik dan ketawa jadi satu.

Sami, our Lebanese fellow, menggambarkan suasana ini (diharapkan) akan berubah saat nanti Al Watan TV sudah on air. Setelah tanggal 11 semua hiruk-pikuk mereda, seiring terberesnya masalah satu per satu. Seperti saat serangan teroris di New York tanggal 11 September 2001 silam. Tanggal tersebut merupakan titik perubahan buat Amerika dan seluruh dunia. Semoga titik perubahan 9/11 di Al Watan TV menuju sesuatu yang positif, terutama untuk departemen kreatif tempat Papin dkk bekerja. "Everything gonna be YEA RIGHT!" teriak Sami suntuk.

Berdiri ki-ka : Heba, Rami, Sham, Bably, Ghesan, Bader, Papin
Duduk ki-ka : Zaidun, Eman, Bayu, Yoswar
Where's Sami? Bader sez, "Forget him. We can put him inside this green-screen in Photoshop later" wakakakakak

Tuesday, September 04, 2007

Review 2 bulan di Kuwait

  1. Sudah punya rumah buat istirahat setelah seharian dicambukin pekerjaan. Sayangnya, rumah ini tidak seperti rumah di Indonesia yang berisi penuh kehangatan keluarga Neverland. Tapi paling tidak kami bisa tidur dengan tenang bertemu keluarga di mimpi.
  2. Berhubung sudah punya rumah, berkat bantuan mesin cuci, kompor listrik & microwave dari Mas Indra kami bisa melakukan aktivitas standar. Tidak perlu lagi gotong-gotong baju kotor ke rumah Mas Heru untuk numpang nyuci baju.
  3. Untuk makanan, sudah bisa melahap semua menu lokal. Bahkan kami sudah memiliki restoran Chinese food langganan yang bisa delivery. Nasi goreng & mie goreng jadi menu andalan kalau sudah kangen menu Asia. Sayangnya, Yoswar masih bermasalah dengan sirkulasi pembuangan gas alam-nya. Intensitas aktivitas pembuangan masih tinggi dibanding sebulan lalu.
  4. Alternatif transportasi taxi : team Fulail dari Srilanka. Jauh lebih cepat, lebih ramah tapi lebih mahal. Team Fulail (yang terdiri dari Fulail himself, Farouk, Mansoor dan kawan-kawannya dari Srilanka) selalu berkomunikasi satu sama lain dengan telepon selular.
  5. Kini kami mendapatkan sarana transportasi dan supir dari perusahaan. Tidak lagi mengandalkan taxi untuk berangkat/pulang kantor. Hanya saja, supirnya tidak ada yang bisa bahasa Inggris. Saatnya memaksakan diri belajar bahasa Arab!
  6. Masih belum bisa melakukan aktivitas lari pagi!! :(
  7. Proses pembuatan civil id baru masuk tahap cap jari. Rencananya bulan ini mulai tahap tes kesehatan dan iqomah. Ngga sabar sudah pengen ketemu keluarga Neverland!

Thursday, August 30, 2007

Tetes-tetes Air Penyegar

Tidak terbayang betapa besar rasa syukur Papin dkk kepada Yang di Atas. Walau kami berjauhan dengan keluarga, pasti ada saja tetes air yang menyegarkan kami di padang gersang ini.

Tetes air 1 :
Perusahaan memberi kami fasilitas driver dan mobil untuk antar jemput. Jelas kami jadi jejingkrakan ngga karuan, bisa menghemat 3 jutaan sebulan untuk ongkos taksi. Walau Sarwat (driver kami) tidak bisa berbahasa inggris, dia cukup baik dan ngocol. Hitung-hitung buat kami untuk memaksakan diri belajar menggunakan bahasa Arab. Dan tentu saja mengajari Sarwat untuk berbahasa Inggris. Kasihan, bo! Di perusahaan ini ada lebih dari satu nationality, kalau dia tidak bisa bahasa Inggris bakal berantakan semua urusan.

Tetes air 2 :
Papin dkk mulai sedikit demi sedikit belajar menggunakan software profesional seperti Color, Motion, Final Cut Pro (semua dari Apple). Perusahaan sudah menginvestasikan software-software tersebut dan harus dipakai. Akhirnya, kami bisa mencicipi software-software mahal itu walau agak minder awalnya :D

Tetes air 3 :
Dapat iLife '08 dari Ahmad! Tapi jadi bingung, beli sendiri atau copy saja dari punya Ahmad ya? wekekekekek

Tetes air 3 :
Arwen dikabarkan sudah mulai mereda amarahnya. Dan Mamin sudah mulai belajar banyak untuk menguasai keadaan. Everything's gonna be right, dear.

Tetes air 4 :
Mas Indra KBRI yang tinggal satu gedung apartemen dengan kita menawarkan piring-piring. Alhamdulillah, kini kami tidak perlu makan menggunakan alas aluminium foil lagi.

Tetes air 5 :
Satu dari tahap perjuangan mendapatkan civil id dilalui : cap jari!

Tetes air 6 :
Gajian! Bisa beli sprei dan korden!

Dan banyak tetes-tetes air lainnya yang bikin panjang blog ini. Ujung-ujungnya jadi banjir syukur nih. Terima kasih, Tuhan.

Identity Crisis



Ngga cuma di Indonesia, pengusaha-pengusaha Kuwait juga sering melakukan pencurian identitas atau logo dari institusi lain. Contohnya seperti restoran Batrix ini. Tidak usah disebutkan mencuri logo dari mana, anda sudah bisa menebak. Sama-sama menjual junk food dan kadang restorannya sendiri berdamping-dampingan mesra dengan rivalnya. Sebenarnya rasa yang ditawarkan cukup enak dan mengenyangkan, cuma kok yha kayaknya ngga percaya diri gitu mesti nyolong logo.

Ngomong-ngomong krisis identitas dan ngga percaya diri, tadi ada taksi dengan logo Superman dan text besar dibawahnya "Taxi Super Man" di pintunya. Cuma kok ya, rasanya jadi malas nyegat taksi ini. Takut dibawa terbang. Maklum sifat pengemudi di sini rada sableng.


It's a bird! It's a plane! No, it's a cab!

Wednesday, August 29, 2007

Senyuman Arwen Trondol


Before & After

Seperti yang diposting Mamin di blog Arwen, Arwen kini dikabarkan sudah mulai banyak tersenyum dan intensitas tantrumnya menurun. Dan dia baru saja ganti model rambut : crew cut! Yikes! Bikin kangen aja. Pengen uyel-uyel rambutnya euy.

Belantara Administrasi Kuwait

Photobucket - Video and Image Hosting
(click to enlarge the map)

Kini Papin memasuki tahap berikutnya dalam mengurus administrasi civil id, yaitu finger print. Untuk tahap ini Papin harus pergi ke kantor Al Watan pusat dan dari sana pergi bersama seorang pegawai HR mengantar ke kantor finger print. Beberapa hari sebelumnya, Papin sempat dijanjikan untuk diantar ke kantor finger print, namun ternyata harus pergi sendiri. Oleh bos Bader, Papin diperintahkan untuk tidak pergi sendirian dan harus ditemani oleh orang kantor. "It's a jungle out there, Pinot. They're all speak arabic and there's no English sign to tell you what to do!"
Hari ini Papin ditemani oleh seorang pegawai (yang ternyata baru 2 hari di Kuwait!) bernama Sallah asal Jordania. Dengan mobilnya, kami meluncur ke Farwaniyah. Di dekat kantor finger print, kami langsung disambut calo-calo yang rata-rata berkebangsaan India. Welcome to the jungle, kata Papin ke Sallah.

 
Dirubung calo-calo asal India dan suasana ruangan calo dkk

Seorang calo dengan gigih menerangkan berbagai hal administrasi dengan bahasa campur Arab & Inggris. Tadinya mau menghindar saja, tapi Sallah justru menuruti apa kata calo. Bersama calo, Papin menjauh dari kantor finger print dan diajak ke sebuah tempat yang mengurus segala tetek-bengek urusan administrasi, dari pengetikan dengan huruf Arab, foto kopi, pas foto, meterai. Entah apa yang dilakukan si calo dan teman-temannya (entah benar entah mengada-ada) Papin diberikan form tambahan dan semua dokumen dikelompokkan lengkap dengan pas foto Papin (yang untungnya sempat bikin pas foto banyak-banyak). Wah, cukup berguna juga nih calo dan teman-temannya. Dengan bahasa Inggris terbata-bata, dia menjelaskan prosedur yang harus dilakukan. Dokumen-dokumen berbahasa Arab dibagi dua, satu untuk urusan tes kesehatan dan satu lagi untuk finger print. Setelah membayar KD 2.5, kini map dokumen Papin penuh berisi kertas-kertas berbahasa Arab yang ngga tahu makna dokumen tiap lembarnya :D


Petugas sedang menempelkan jari seorang ibu untuk dicap

Kembali bersama Sallah, kami masuk ke ruang kantor finger print. Ternyata di tempat ini juga bisa melakukan test kesehatan dan segala keperluan syarat administrasi. Kantornya sendiri cukup bersih, rapi dan AC-nya dingin. Tidak berkesan kumuh seperti yang pernah diceritakan. Hanya saja, pandangan petugas-petugasnya tidak terlalu ramah, mungkin karena wajah Papin yang Asia pisan. Berkat Sallah dan jalur sakti Al Watan, Papin bisa langsung cap jari tanpa harus mengantri dan menunggu lama.
Bayangan hutan belantara urusan administrasi di Kuwait tidak seribet yang diduga. Thanks to Sallah, semua bisa dilakukan tanpa tersesat. Dan cukup membuat pede untuk mengurus tes kesehatan dan tahap administrasi berikutnya.

Sunday, August 26, 2007

Street Fighter

Di negeri gersang ini, emosi penduduknya tampak lebih labil dan gampang tersulut amarah. Baru 2 bulan di sini, sudah beberapa kali menyaksikan pergesekan dan benturan emosi satu sama lain, baik sesama Arab maupun pendatang. Paling sering kalau sudah di jalanan, pengemudi taxi yang kami tumpangi sering mengumpat mengumbar sumpah serapah yang kami sendiri tidak mengerti artinya.

Pagi ini, bagai pemandangan yang sudah umum (bagi yang sudah terbiasa) kami menyaksikan perkelahian fisik yang terjadi di area pembangunan underpass 5th ring road highway. Cukup dari jendela apartemen kami, gebuk-gebukan bisa dinikmati dengan jelas sambil menyeruput kopi hangat. Dan sambil berharap agar kami dilindungi Yang di Atas tidak akan pernah terlibat adu emosi dengan orang lain di sini. Karena - seperti pendapat teman-teman di sini - sebenar-benar apa yang kita lakukan tidak akan pernah dianggap benar. Mending ngalah dan seterusnya tetap menjadi penonton duduk manis. Insya Allah.

 
Mohon maaf, kualitas videonya tidak terlalu bagus. Maklum diambil pakai kamera digital dan jaraknya cukup jauh dari TKP

Note : this video hosted in BLIP.TV.
Clik here to download to QuickTime movie.

Download QuickTime for free

Friday, August 24, 2007

Motion Graphic Designer Salary Range

Ngobrol-ngobrol dengan sesama profesi MGD (Motion Graphic Designer) di Timur Tengah, ternyata range salary di Indonesia (minimal bekas tempat kerja kita sebelumnya) tidak lebih buruk dibandingkan dengan Lebanon atau Mesir. Angka terendah untuk junior berkisar US$ 400 sampai dengan tertinggi US$ 1500. Berdasarkan pengalaman Papin, teman-teman MGD di stasiun TV Indonesia (terutama di Jakarta) berkisar diantaranya. CMIIW.



Para desainer dari negara-negara tersebut banyak yang hijrah ke Kuwait atau Dubai (UAE). Walau dengan konsekuensi pengeluaran relatif lebih besar, level penghasilan atau salary di kedua negara ini cukup baik bagi para desainer tersebut. Untuk ukuran salary Graphic Designer secara general, penghasilan per tahunnya di kedua negara ini ada dalam level average.

Bagi Papin dkk, apa yang kami dapat cukup memberi perbaikan taraf hidup. Paling tidak, alhamdulillah sekarang sudah bisa nabung buat keluarga. Dan tentu saja memberi semangat bagi kami untuk terus berprofesi di bidang yang masih muda ini. Hayo siapa lagi yang mau gabung jadi TKI ?

Thursday, August 23, 2007

This Month Trend

Beberapa perubahan kebiasaan kami bertiga antara 1 bulan lalu dan sekarang.


Trend
EXPIRED
FRESH
TaxiTariq - PakistaniFulail - Srilankan
FoodShawarmaBriyani
StoreCarrefourBakala
PlaceHotelApartment
Go Homewith Samiwith Taxi
Contact to IndonesiaFree SkypeSkype Out
Big ProblemNo moneyNo civil ID

Master Slave Strikes Back


Just right after saw my posting in this blog, Sami the master slave strikes back. He torturing & (finger) whipping Bayu when he find something is wrong in the project.

Mercy me, master. Mercy me...

Wednesday, August 22, 2007

Look Who's The Slave Now



Lihat tampang Sami the Lebanese saat dimaki-maki oleh Bayu & Yoswar. Sami yang biasanya terrorizing kami, kini berbalik tampak sangat stress, tertekan dan ketakutan, saat Bayu sez, "You eat my frame! It's suppose to be 25 frame per second, you dumb!" and Yoswar sez, "What the hell is that? Your creation?? Well that's a crap! A junk! Lame!!"
Phoey.. such a nice moment we had.

Kami bisa merasakan nikmatnya jadi majikan budak sesaat, walau sekedar becanda sebelum pulang.

Sunday, August 19, 2007

Human Trafficking



Setelah sebelumnya dapat sumbangan meja makan, sekarang dapat sumbangan lagi dari Mas Heru & Mbak Ida berupa kursi rotan panjang. Di hari kemerdekaan ini, kami menggotong kursi tersebut dan dijejelin ke Chrysler Mas Heru, lengkap dengan 4 kursi makan dan 6 orang (Mas Heru, Eman, Yoswar, Bayu, Papin & Gaga - putra mas Heru) di dalamnya. Tumpukan tersebut berjalan di bawah terik matahari Kuwait dengan panjang perjalanan 2 kilometer. Jendela mobil terpaksa ditutup kain atau bantal agar tidak terlihat dari luar, menghindari cegatan polisi yang bisa mengira sedang ada aktivitas human trafficking dengan mobil Mas Heru.


Friday, August 17, 2007

17 Agustus di Kuwait


MacBook putih, casing merah & latar belakang Kuwait Liberation Tower

Mardhika, Indonesia! Hari ini seumur hidup 'merayakan' kemerdekaan negeri sendiri di negara orang. Rasa nasionalisme yang sebelumnya ala kadarnya, sekarang mulai terasa lebih kental. Maklum, makin jauh makin dekat rasanya.

"And ever has it been known that love knows not its own depth until the hour of separation."
Khalil Gibran


Belum banyak yang bisa dilakukan untuk Indonesia hingga kini. Tapi, rasa nge-Ndonesia yang menebal di Kuwait membuat Papin dkk merasa perlu melakukan sesuatu. Ngga banyak-banyak, ngga neko-neko, ngga ngawang-awang. Hanya sekedar perlu memberikan citra plus kepada orang-orang di sini tentang Indonesia. Seperti yang sudah diketahui, citra Indonesia di Timur Tengah umumnya adalah TKI atau TKW. Populasinya bisa sekitar 80% dibanding profesi lain seperti pilot, dokter, suster & expatriat di berbagai bidang seperti minyak atau stasiun TV seperti yang dilakukan Papin dkk.

Citra 'pembantu' ini tampak pada saat kita melakukan hubungan komunikasi dengan banyak orang. Jika kita bepergian ke tempat keramaian (seperti mall, cafe, restaurant, supermarket) wajah Asia kita sering dikira orang Filipina atau Thailand. Bagi mereka, Indonesia mestinya itu nyumput di dapur atau bersih-bersih di rumah majikan. Dan tidak bebas berkeliaran terutama saat malam. Kalau pun jalan ke tempat keramaian, pastinya berperan sebagai baby sitter dorong stroller anak majikan.

Memang bukan sebuah peran yang besar, tapi bercerita dan memberikan citra plus kepada banyak orang tentang Indonesia adalah sesuatu yang patut dilakukan. Sesuatu yang memang seharusnya dilakukan saat di negara orang.

Thursday, August 16, 2007

Sabar ya, Peri-peri Kecil Kami


Arwen, Salma & Nida

Saat Papin berencana pergi ke Kuwait beberapa bulan lalu, ada satu hal yang tidak Papin Mamin duga & antisipasi sebelumnya. Jika rasa kehilangan dan kangen muncul, paling tidak hanya Mamin, orang tua & kerabat kami yang mengalaminya. Namun kini ternyata Arwen pun juga merasakan hal yang sama. Dan dampaknya sangat luar biasa.

Kami pun sempat dibuat bingung dan pusing pada perilaku Arwen seperti yang diceritakan di blog nya. Awal-awal kepergian Papin, perilaku Arwen tidak terlalu berubah, paling sekedar minta ditambahin kumis biar mirip bapaknya. Lewat 1 bulan, perilaku Arwen makin unpredictable.

Yoswar dan Bayu pun mengalami hal yang sama pada putri tertua mereka, Salma dan Nida. Gejolak psikologis menghantui perilaku keseharian mereka. Gejalanya pun sama. Kami bertiga pun saling bertukar informasi tentang kondisi masing-masing putri tertua kami. Intensitas komunikasi dengan istri masing-masing juga makin tinggi. Maklum, kami (merasa) harus terus mendapatkan update perkembangan dari hari ke hari. Dan tentu saja untuk memberi dorongan dukungan moral spiritual kepada istri tercinta kami yang bertugas ganda sebagai pengganti ayah putri kami, sekaligus sebagai kepala rumah tangga bagi keluarga mungil kami.

Sabar ya putri-putri kami. Kita akan segera berkumpul kembali dan bercengkerama seperti sediakala. Amin.

Read also Santi's blog.

Wednesday, August 15, 2007

Malam Pertama di Apartemen



3 hobbit ini akhirnya bermalam di 'desa Shire' nya yang baru. Masing-masing sibuk menata kamarnya dengan barang-barang yang sudah dibeli sebelumnya seperti kasur, sprei, sarung bantal, venetian blinds dan lain-lain. Papin sendiri belum punya tirai, terpaksa beli sprei di Sultan Supertmarket untuk dijadikan tirai darurat. Males saja tidur diintipin dari jalan raya dan jembatan penyeberangan. Sprei yang dibeli juga spesial, bergambar film animasi karya Disney & Pixar "Cars". Arwen suka banget dengan film ini, that's why Papin beli sprei ini buat nanti saat Arwen sudah bergabung di Kuwait. Hitung-hitung sudah mempersiapkan tempat tidur buat para Neverland.



Tanpa cemilan makanan, tanpa TV atau pelengkap seperti layaknya rumah, dengan hanya berbekal hiburan internet dari MacBook Papin, kami pun melewati malam pertama bersama dengan perasaan yang campur aduk. Walau begitu, saat kami memejamkan mata dan merebahkan badan di kasur baru kami, ada semacam kelegaan bahwa akhirnya kami bisa tinggal dan beristirahat di sebuah rumah. Dan segera menggelar mimpi bertemu keluarga dengan tenang.

Nonton Bioskop



Hari ini kita nguber mau nonton Harry Potter. Setelah melihat jadwal di website Cinescape, kita ngebut dari kantor ke Al Fanar untuk mengejar yang jam 19:30. Sayangnya, Harry Potter sudah tidak diputar di bioskop tersebut dan berhubung sudah kadung tiba di lokasi kita memilih menonton film lainnya, Bourne Ultimatum. Hitung-hitung jajal nonton bioskop di Kuwait.

Harga tiketnya KD 2,5 (Rp 75.000-an) dengan konfigurasi urutan tempat duduk dari A sampai L dan deret A adalah yang terdekat dengan layar - kebalikannya di Indonesia. Yang menarik, konfigurasi dibagi 2 area antara bachelor/single dan keluarga. Area bachelor/single berada di deret A sampai E, posisi paling dekat dengan layar! Kebayang kalau judul film-nya yang lagi ramai ditonton, sudah pasti para bujangan ini berebut untuk posisi di tengah di area A - E tersebut. Menderita sekali kalau menonton film di deret terdepan tapi nomor posisi duduk di paling pinggir. Bikin sakit leher dan mata pegel.

Kita dapat posisi di deret E dengan nomor 3, 4, 5, 6. Seperti di Indonesia, layar dibuka diawali dengan trailer promosi film dengan subtitle bahasa Arab dan Perancis (subtitle Perancis hanya muncul di trailer, tapi tidak muncul saat film diputar). Setelah itu iklan-iklan lokal bermunculan dan ..... *uhuiy* iklan 'corporate image' perusahaan tempat kami bekerja, Al Watan TV. Karena menggunakan format film 35 mm, iklan tersebut terlihat memukau saat ditonton di layar lebar. Rich colors, crisp images. Kami sempat terlihat 'kampungan' di antara penonton lain karena menunjuk-nunjuk ke layar kegirangan. Tumben-tumbennya kami merasa bangga bahwa perusahaan tempat kami bekerja nongol di bioskop. Kampungan!

Setelah itu Bourne Ultimatum diputar. Dengan style pengambilan gambar 'handheld camera' ala dokumenter, film ini cukup melelahkan jika ditonton di deret tempat kami duduk. Mata kami terlalu dekat dengan layar bergambar adegan bergoyang-goyang tidak stabil, membuat kami agak mual. Tampaknya, film dengan style 'handheld camera' hanya bisa ditonton buat yang sudah berkeluarga saja di Kuwait.

Keluar dari gedung bioskop, secara psikologis kami langsung menuju area parkir untuk mengambil mobil dan pulang. Maklum, baru pertama kali menonton di negeri orang.

Tuesday, August 14, 2007

MacBook si Temen Bobok

Sungguh setia si MacBook ini. Rasanya ngga bisa lepas sedetik pun dengannya. Dari urusan komunikasi dengan keluarga Neverland, blogging, browsing, photo & video library semua digeber dalam MacBook generasi pertama ini.



Termasuk urusan tidur. Sebelum merem, slideshow sudah disiapkan lengkap dengan background lagu-lagu favorit keluarga Neverland. MacBook pun setia menemani tidur Papin hingga pagi.